Inisiasi Standar Tisu Halal, Asia Pulp and Paper Dekati MUI

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 30/06/2016 15:49 WIB
Inisiasi Standar Tisu Halal, Asia Pulp and Paper Dekati MUI Pabrik pulp, kertas dan produk turunannya milik Asia Pulp & Paper Group. (Dok. Asia Pulp & Paper).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan tisu Sinarmas Group, Asia Pulp and Paper (APP), akan bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) guna menginisasi standar halal produk tisu nasional. Kegunaan tisu yang bersifat multiguna menjadi penyebab standar halal dinilai sangat diperlukan.

Widianto Juwono, Kepala Divisi Tisu APP untu Regional Korea dan Asia Tenggara mengatakan, tisu kini tidak hanya digunakan untuk keperluan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian dari konsumsi makanan, seperti tisu makan dan juga tisu penyerap minyak goreng.

Ia menjelaskan, standarisasi tisu untuk konsumsi sebetulnya bisa dilakukan dengan sertifikasi food grade. Namun, mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, maka tisu dengan sertifikasi halal perlu digalakkan.


"Sebetulnya sampai saat ini belum ada kewajiban dari Kementerian Kesehatan untuk ada standar halal bagi tisu. Namun mengingat standar halal bagi makanan perlu diadakan, maka kami sedang berbicara dengan MUI untuk menginisiasi standar halal bagi industri tisu secara keseluruhan di Indonesia," ujar Widianto, Kamis (30/6).

Ia melanjutkan, APP siap menjadi inisiator mengingat enam produk tisu pabrikan APP lainnya telah mendapat sertifikasi halal. Namun menurutnya, mendapatkan sertifikasi halal tidaklah mudah karena tisu yang diproduksi harus melalui serangkaian tes ketahiran terlebih dahulu, yang prosesnya tidak kalah panjang.

"Maka dari itu, label halal sebetulnya hanya value added dari tisu yang higienis. Memang secara harga ada bedanya, namun masyarakat juga tahu mana kualitas yang lebih baik," jelasnya.

Kendati dianggap penting untuk pasar Indonesia, namun sertifikasi halal ini hanya dianggap syarat pelengkap bagi ekspor tisu nasional. Direktur Divisi Tisu APP, Hoany Muljadi menambahkan, tak semua negara tujuan ekspor tisu Indonesia mengisyaratkan sertifikasi halal.

Namun, ia tak menampik jika kini terjadi tren di mana konsumen mulai beralih menggunakan tisu berlabel halal.

"Kalau masalah ekspor tisu halal, itu tergantung kebijakan produsen. Bukan negara-negara tujuan ekspor, kecuali ada beberapa negara yang mayoritas penduduknya Islam," terang Hoany di lokasi yang sama.

Ia memberi contoh perusahaannya yang mengalokasikan 85 persen produksinya untuk dipasarkan ke 20 negara. Dari seluruh negara tersebut, hanya dua wilayah saja yang mengisyaratkan label halal yaitu Timur Tengah dan Malaysia, di mana gabungan keduanya tidak mencapai 10 persen dari total ekspor.

"Masalah tisu halal ini lebih ke arah pemasaran dalam negeri, namun untuk pemasaran di luar negeri tidak begitu dibutuhkan. Jika sewaktu-waktu Australia butuh impor tisu dengan label halal, ya kami harus menyesuaikan," ujarnya. (ags/gen)