Jonan Ingin China Parkir Duit di Proyek Energi Terbarukan

Agustiyanti, CNN Indonesia | Senin, 13/11/2017 14:34 WIB
Jonan Ingin China Parkir Duit di Proyek Energi Terbarukan Menteri ESDM Ignatius Jonan menyebut, saat ini investasi China di sektor energi lebih banyak mengalir ke sektor hulu migas, kelistrikan, serta minerba. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menginginkan pemerintah maupun pihak swasta China memperluas investasinya ke Indonesia pada sektor energi baru dan terbarukan. Saat ini, Negeri Tirai Bambu tersebut telah mengalirkan investasinya ke sektor hulu dan gas bumi (migas), kelistrikan, serta mineral dan batu bara (minerba).

“Terus terang, dalam satu tahun terakhir, saya melihat tidak ada aktivitas (investasi) besar di bidang energi baru terbarukan di Indonesia (dari China). Kebanyakan dari negara Eropa, Amerika Serikat (AS), dan Jepang,” ujar Jonan dalam The 5th Indonesia China Energy Forum (ICEF) di Hotel JW Marriott, Senin (13/11).

Jonan menyebut, kondisi lingkungan dan iklim dunia saat ini telah berubah, sehingga membutuhkan sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Untuk itu, Jonan pun berharap agar investasi dari China turut dialirkan untuk memenuhi kebutuhan sumber energi tersebut melalui pengembangan proyek EBT.

"Kami juga menyadari bahwa dunia sedang berubah, terutama dengan masalah aspek lingkungan hidup. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia menyambut baik kalau ada studi dan kerja sama di bidang renewable energi," imbuh mantan Menteri Perhubungan itu.

Sayang, Jonan belum ingin bicara mengenai proyek-proyek EBT apa saja yang ingin ditawarkan pemerintah Indonesia ke pemerintah dan perusahaan China. Namun, Ia menyatakan komitmen pemerintah Indonesia untuk memperbaiki regulasi dan perizinan di dalam negeri agar bisa lebih menguntungkan kedua belah pihak.

Sementara itu, Direktur Administrasi Nasional Energi (National Energy Administration/NEA) China Nur Bakri mengatakan, pemerintah dan para pengusaha China berharap dapat terus memperluas investasinya di Indonesia karena segudang potensi yang dimiliki Indonesia. Hubungan baik antara kedua negara telah terjalin sejak ratusan tahun silam. Namun, diakuinya, masih dibutuhkan regulasi kerja sama yang lebih baik lagi.

Untuk itu, pemerintah China pun menurut dia, sangat menyambut baik bila kedua negara serius berkomitmen memperbaiki kesepakatan kerja sama.

"Kami berdua sepakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih ramah lagi untuk bisa meningkatkan investasi di Indonesia dan saya yakin, perusahaan China tidak akan mengecewakan pemerintah Indonesia dan masyarakat Indonesia," katanya.

Adapun kesepakatan kedua negara dituangkan dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understandings/MoU) yang berisi komitmen bahwa keduanya akan terus melakukan kerja sama di sektor energi.

Sebelumnya, kerja sama antara Indonesia dengan China telah terjadi dalam beberapa proyek operasional blok dan non operasional blok. Misalnya kerja sama dengan beberapa perusahaan dari China, seperti CNOOC, SINOPEC, dan Petrochina.

Selain itu, China juga kerap berinvestasi dalam berbagai proyek kelistrikan berkapasitas 35 ribu MW, seperti dengan skema Teknik, Pengadaan, dan Konstruksi (Enginering, Procurement, and Construction/ECP) sebesar 3 persen dan Produsen Daya Independen (Independent Power Producer/IPP) sebesar 36 persen.

Lalu, ada pula kerja sama kelistrikan non 35 ribu MW, seperti PLTU Banten I, PLTU Banten II, PLTU Banten III, PLTU I Jawa Barat, PLTU II Jawa Barat, PLTU I Jawa Tengah, dan beberapa PLTU besar lainnya di wilayah Indonesia.

Terakhir, kerja sama di bidang hilir minerba, misal kerja sama antara Alumunium Corporation of China Ltd. (Chinalco) dengan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum dalm membangun Smelter Grade Alumina di Kabupaten Mempawah (SGA Mempawah), Kalimantan Barat. (agi/agi)