Investasi Hulu Migas Baru Capai 40 Persen dari Target

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Jumat, 27/10/2017 20:01 WIB
Investasi Hulu Migas Baru Capai 40 Persen dari Target SKK Migas mencatat investasi hulu migas hingga kuartal III 2017 di angka US$5,57 miliar atau baru mencapai 40,36 persen dari target tahun ini. (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria).
Jakarta, CNN Indonesia -- Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mencatat investasi hulu migas hingga kuartal III 2017 di angka US$5,57 miliar. Adapun, angka tersebut baru mencapai 40,36 persen dari target tahun ini yang dipatok US$13,8 miliar.

Dari angka realisasi tersebut, sebanyak US$245,5 juta dialokasikan untuk kegiatan eksplorasi, kegiatan pengembangan sebesar US$393,37 juta, dan proses administrasi sebesar US$532,78 juta. Di sisi lain, investasi untuk kegiatan produksi tercatat memiliki nilai terbanyak yakni US$4,4 miliar

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi menjelaskan, masih rendahnya realisasi investasi ini disebabkan oleh banyaknya investasi yang tertunda. Untuk kegiatan eksplorasi, beberapa penundaan disebabkan karena Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) kekurangan uang. Sementara dari sisi eksploitasi, tertundanya beberapa investasi disebabkan karena proses pengadaan yang mundur.


Ia mencontohkan, lapangan gas MBH di blok Madura Strait yang dikelola Husky-CNOOC Madura Ltd yang mundur karena pengadaan kapal. Adapun, tadinya pengadaan tersebut dijadwalkan akhir tahun. Namun, karena satu dan lain hal, pengadaan tersebut baru bisa dilakukan tahun depan.

“Proses tender kalau mundur berarti bangunnya juga mundur. Artinya bukan diundur tapi terpaksa mundur,” kata Amien ditemui di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jumat (27/10).

Lebih lanjut ia menuturkan, penundaan investasi ini pun sebenarnya juga tidak begitu terpengaruh pergerakan harga minyak. Sebab, faktor tersebut sudah dipertimbangkan ketika KKKS melampirkan target investasinya di dalam rencana kerja dan anggaran (Work Program and Budget/WP&B) awal tahun lalu. Menurut Amien, tertundanya beberapa investasi ini sebagian besar disebabkan masalah finansial.

“Persentasenya lebih rendah (investasi hulu migas hingga akhir tahun), tapi berapanya aku ga inget,” jelas Amien.

Meski demikian, ia masih optimistis bahwa investasi hulu migas masih menarik. Ia berkaca dari lima proyek hulu migas yang telah onstream sejak 2014 yang bernilai US$16,34 miliar. Adapun, investasi tersebut terdiri dari lapangan Banyu Urip yang dikelola ExxonMobil Cepu Ltd, proyek laut dalam Bangka kelolaan Chevron, proyek Donggi-Matindok-Senoro kelolaan PT Pertamina EP, proyek laut dalam Jangkrik kelolaan Eni Muara Bakau BV, dan lapangan Madura BD kelolaan Husky-CNOOC Madura Ltd.

Selain itu, ada pula satu investasi hulu migas yang juga memasuki fase keputusan investasi final (Final Investment Decision/FID) yakni Tangguh Train 3 yang dikelola British Petroleum. Menurutnya, proyek Tangguh adalah satu dari dua proyek gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) di dunia yang sudah memasuki fase FID di tahun 2016 silam.

“Dari seluruh dunia, memang Tangguh adalah satu dari dua proyek LNG yang memasuki FID di tahun lalu, dan ini patut dibanggakan. Ini bukti bahwa iklim investasi LNG di Indonesia masih menarik,” lanjutnya.

Menurut data SKK Migas, investasi hulu migas pada tahun lalu mencapai US$11,2 miliar. Angka ini menurun 26,79 persen dibanding tahun sebelumnya yaitu US$15,3 miliar. (agi/agi)