Dari angka realisasi tersebut, sebanyak US$245,5 juta dialokasikan untuk kegiatan eksplorasi, kegiatan pengembangan sebesar US$393,37 juta, dan proses administrasi sebesar US$532,78 juta. Di sisi lain, investasi untuk kegiatan produksi tercatat memiliki nilai terbanyak yakni US$4,4 miliar
Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi menjelaskan, masih rendahnya realisasi investasi ini disebabkan oleh banyaknya investasi yang tertunda. Untuk kegiatan eksplorasi, beberapa penundaan disebabkan karena Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) kekurangan uang. Sementara dari sisi eksploitasi, tertundanya beberapa investasi disebabkan karena proses pengadaan yang mundur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Proses tender kalau mundur berarti bangunnya juga mundur. Artinya bukan diundur tapi terpaksa mundur,” kata Amien ditemui di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jumat (27/10).
“Persentasenya lebih rendah (investasi hulu migas hingga akhir tahun), tapi berapanya aku ga inget,” jelas Amien.
Lihat juga:Pemerintah Didesak Segera Revisi UU Migas |
Meski demikian, ia masih optimistis bahwa investasi hulu migas masih menarik. Ia berkaca dari lima proyek hulu migas yang telah onstream sejak 2014 yang bernilai US$16,34 miliar. Adapun, investasi tersebut terdiri dari lapangan Banyu Urip yang dikelola ExxonMobil Cepu Ltd, proyek laut dalam Bangka kelolaan Chevron, proyek Donggi-Matindok-Senoro kelolaan PT Pertamina EP, proyek laut dalam Jangkrik kelolaan Eni Muara Bakau BV, dan lapangan Madura BD kelolaan Husky-CNOOC Madura Ltd.
Selain itu, ada pula satu investasi hulu migas yang juga memasuki fase keputusan investasi final (Final Investment Decision/FID) yakni Tangguh Train 3 yang dikelola British Petroleum. Menurutnya, proyek Tangguh adalah satu dari dua proyek gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) di dunia yang sudah memasuki fase FID di tahun 2016 silam.
“Dari seluruh dunia, memang Tangguh adalah satu dari dua proyek LNG yang memasuki FID di tahun lalu, dan ini patut dibanggakan. Ini bukti bahwa iklim investasi LNG di Indonesia masih menarik,” lanjutnya.
Lihat juga:Capaian Lifting Migas Kuartal III Meleset |
Menurut data SKK Migas, investasi hulu migas pada tahun lalu mencapai US$11,2 miliar. Angka ini menurun 26,79 persen dibanding tahun sebelumnya yaitu US$15,3 miliar. (agi)