Pemerintah Jamin APBN 2018 Aman Meski Asumsi Makro Berubah

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 21/11/2017 15:39 WIB
Pemerintah Jamin APBN 2018 Aman Meski Asumsi Makro Berubah Dua asumsi yang bisa berubah adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Keuangan menyatakan, dua komponen asumsi makroekonomi di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 bakal langsung berubah begitu memasuki Januari tahun depan.

Dua asumsi yang dimaksud adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price).

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Suahasil Nazara mengatakan, asumsi nilai tukar rupiah kemungkinan akan berada di angka Rp13.500 per dolar AS atau lebih tinggi dibanding asumsi APBN 2018 yakni Rp13.400 per dolar AS.


Begitu pun dengan asumsi ICP, di mana pada awal tahun nanti rata-rata ada di kisaran US$51 per barel atau lebih tinggi dibanding asumsi APBN yaitu US$48 per barel.


Kendati demikian, Suahasil menerangkan, perubahan asumsi itu tak akan mempengaruhi asumsi belanja dan penerimaan negara di tahun depan. Dengan kata lain, pemerintah tetap memasang angka penerimaan negara sebesar Rp1.894,7 triliun dan belanja dipatok di angka Rp2.220,7 triliun.

“Kalau exchange rate Rp13.500 per dolar AS apa yang akan terjadi dengan budget? Kami perkirakan aman, tidak terkena dampak yang terlalu besar. Lalu bagaimana dengan asumsi harga minyak yang berbeda? Kami jamin juga aman,” ujar Suahasil, Selasa (21/11).

Untuk nilai tukar rupiah, Suahasil mengatakan bahwa ini mengikuti tren pelemahan yang terjadi sejak pertengahan tahun lalu. Menurut kurs referensi berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah melemah 1,64 persen dalam empat bulan terakhir.

Sementara itu, dari segi harga minyak mentah, kenaikan ini bisa berdampak pada kenaikan angka subsidi energi yang dipatok pemerintah tahun depan sebesar Rp46,86 triliun.


Namun demikian, kenaikan harga minyak dan menguatnya nilai tukar bisa menjadi dorongan bagi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor migas, yang ujung-ujungnya bisa mengisi kantong negara.

Dengan dua kutub mengenai dampak pergerakan rupiah dan harga minyak mentah, seharusnya APBN tahun depan masih bisa seimbang dan mencapai defisit APBN yang ditargetkan yakni 2,19 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Kenaikan harga minyak ini tentu ada impact negatif, di mana subsidi energi semakin besar. Namun, ada juga impact positif-nya karena kan bisa meningkatkan PNBP. Asumsi makroekonomi di APBN 2018 masih cukup bisa dipakai, bisa digunakan sebagai guidance. Bukan dimaksudkan angkanya harus tercapai, tapi gerakannya ada di sekitar itu,” paparnya.


Di sisi lain, ia mengatakan bahwa pemerintah masih optimistis bahwa asumsi makroekonomi APBN lainnya bisa sesuai dengan target tahun depan.

Untuk inflasi, contohnya, pemerintah yakin angkanya bisa mencapai 3,5 persen setelah melihat tren inflasi Indonesia dalam dua tahun terakhir yang ada di kisaran 3 hingga 3,5 persen.

Sementara itu, pemerintah juga yakin pertumbuhan ekonomi tetap bisa sesuai asumsi APBN yakni 5,4 persen.

“Memang, International Monetary Fund (IMF) baru melakukan review terhadap pertumbuhan ekonomi indonesia yang dimuat di dalam Article IV dengan angka 5,3 persen. Tapi, kami merasa proyeksi 5,4 persen ini masih dipakai dan ini adalah acuan yang dipakai dalam APBN 2018,” tutup Suahasil. (gir/gir)