Harga Minyak Indonesia November Naik Jadi US$59,34 Per Barel

Safyra Primadhyta , CNN Indonesia | Kamis, 07/12/2017 03:43 WIB
Harga Minyak Indonesia November Naik Jadi US$59,34 Per Barel Perkembangan harga rata-rata minyak mentah Indonesia ini sejalan dengan harga minyak mentah utama di pasar internasional yang mengalami peningkatan. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) pada bulan November 2017 berdasarkan perhitungan formula ICP mencapai US$59,34 per barel. Angka itu naik sebesar US$5,33 per barel dibandingkan Oktober yang hanya sebesar US$ 54,02 per barel.

Sementara, ICP SLC bulan November 2017 mencapai US$ 59,83 per barel, naik sebesar US$ 5,12 per barel dari US$ 54,71 per barel pada bulan sebelumnya.

Dikutip dari keterangan resmi Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Kementerian ESDM, Rabu (6/12), perkembangan harga rata-rata minyak mentah Indonesia ini sejalan dengan harga minyak mentah utama di pasar internasional pada bulan lalu dibandingkan Oktober 2017 yang mengalami peningkatan.

Harga dated Brent naik sebesar US$5,26 per barel dari US$57,36 per barel menjadi US$62,62 per barel. Brent (ICE) naik sebesar US$5,22 per barel dari US$57,65 per barel menjadi US$62,87 per barel, WTI (Nymex) naik sebesar US$5,07 per barel dari US$51,59 per barel menjadi US$56,66.per barel. Terakhir, basket OPEC naik sebesar US$5,24 per barel dari US$ 55,50 per barel menjadi US$ 60,74 per barel.

Peningkatan harga minyak mentah utama di pasar internasional ini disebabkan oleh beberapa faktor, yakni kesepakatan anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk memperpanjang pemangkasan produksi dari Maret 2018 menjadi akhir 2018. Keputusan ini diambil pada pertemuan OPEC pekan lalu.

Selain itu, berdasarkan publikasi OPEC November 2017, produksi minyak mentah dari negara-negara OPEC pada Oktober 2017 turun sebesar 0,15 juta barel per hari menjadi sebesar 32,59 juta barel per hari dari September 2017 yaitu sebesar 32,74 juta barel per hari. Kemudian, proyeksi permintaan minyak mentah global tahun 2017 naik sebesar 0,14 juta barel per hari pada proyeksi November 2017 menjadi sebesar 96,94 juta barel per hari, dari proyeksi Oktober 2017 yaitu sebesar 96,80 juta barel per hari.

Penurunan jumlah rig di Amerika Serikat juga berdampak pada kenaikan harga minyak. Pada November 2017, jumlah rig AS tercatat turun sebesar 38 rig dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 898 rig.

Selajutnya, kenaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia untuk tahun ini juga memicu kenaikan harga minyak. Bulan lalu, proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini naik sebesar 0,1 persen menjadi sebesar 3,7 persen, dari proyeksi Oktober 2017 yaitu 3,6 persen.

Berdasarkan laporan Badan Administrasi Informasi Energi (EIA) AS, kenaikan harga minyak juga disebabkan oleh penurunan tingkat stok minyak mentah komersial dan distilasi sepanjang bulan lalu. Tercatat, stok minyak mentah komersial turun 1,2 juta barel dibandingkan bulan sebelumny menjadi sebesar 453,7 juta barel. Kemudian, stok minyak distilasi juga turun 1,1 juta barel menjadi 127,8 juta barel.

Penyebab lainnya adalah pengaliran minyak melalui pipa dari Kanada menuju Amerika Serikat yang selama ini sekitar 560 ribu barel per hari mengalami penghentian sebagian akibat kebocoran pipa. Hal ini mengakibatkan, volume minyak yang disuplai dari Kanada kepada Amerika Serikat sampai akhir November 2017 hanya mencapai 15 persen dari volume normal. Hal ini akan berlangsung hingga waktu yang belum dapat ditentukan.

Untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak mentah juga dipengaruhi antara lain oleh meningkatnya resiko geopolitik di Timur Tengah antara Arab Saudi dan Iran. Selain itu, juga terdapat ketidakstabilan politik dalam negeri di Arab Saudi.

Faktor lainnya, Arab Saudi mengurangi ekspor minyak mentah hingga sebesar 120 ribu barel dibandingkan ekspor pada bulan Oktober 2017 dan gempa bumi yang terjadi di Iran dan Irak pada 12 November 2017 menyebabkan terganggunya produksi minyak mentah dari kedua negara tersebut.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Ego Syahrial mengatakan jika harga ICP telah menembus US$60 per barel maka diperlukan perubahan formulasi harga Bahan Bakal Minyak (BBM). (agi/agi)


BACA JUGA