"Kami lihat di media memang sangat gencar untuk promosinya (Harbolnas) tetapi hawa yang ditimbulkan belum sangat terasa," ujar Wakil Umum Aprindo Tutum Rahanta saat ditemui di sela gelaran "Sarasehan 100 Ekonom Indonesia" di Hotel Grand Sahid, Selasa (12/12).
Tutum mengungkapkan, pihaknya masih melihat bisnis perdagangan secara elektronik (e-commerce) seperti mainan yang sedang tren di kalangan masyarakat. Pada akhirnya, kepercayaan konsumen yang akan menentukan dibelinya suatu produk baik secara online maupun konvensional.
"Kami anggap online atau tidak online itu hanya media. Toh, barang yang dijual sama, sama-sama dibayar. Soal mahal atau murah itu masalah efisiensi saja," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tutum mencontohkan, produk-produk yang dijual di merchant e-commerce harus memenuhi ketentuan soal izin edar, Standar Nasional Indonesia (SNI) dan mengantongi izin Badan Pengawas Obat-obatan dan Makan (BPOM) jika diperlukan.
Selain itu, terkait harga, pedagang juga harus menawarkan harga yang wajar dan sebenar-benarnya. Jangan sampai konsumen tidak percaya dengan harga yang ditawarkan. Dari sisi merchant juga harus mematuhi soal ketentuan perpajakan.
Sebagai informasi, gelaran Harbolnas tahun ini diikuti oleh 254 merchant e-commerce. Dalam kegiatan ini, pembeli produk yang dijajakan secara online dapat menikmati berbagai penawaran menarik mulai dari diskon, cashback, maupun bonus voucher. (agi)