Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Maryono menjelaskan, permasalahan kecukupan dana menjadi masalah dasar kepemilikan rumah, tak hanya bagi MBR tetapi juga kalangan menengah. Namun, perbedaannya menurut dia, kalangan menengah mampu mengatasi kesulitan tersebut dengan memanfaatkan bantuan perbankan. Sedangkan kalangan MBR, masih sangat terbatas dengan layanan bank.
"Sedikitnya masyarakat berpenghasilan rendah yang masuk kategori bankable, membuat mereka sulit mengakses pembiayaan KPR," ujar Maryono dalam diskusi di kawasan Kuningan, Selasa (19/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain akses bank, Ia juga mencatat masih ada beberapa masalah yang turut menghantui kalangan MBR. Pertama, pembangunan perumahan yang tak bisa instan. Kedua, keterbatasan lahan. Ketiga, regulasi pertanahan dan izin pembangunan yang tak sinkron untuk seluruh daerah.
Untuk itu, Maryono melihat, cara singkat yang dapat dilakukan untuk mendorong kepemilikan rumah MBR adalah dengan menjadikan mereka nasabah bank, sehingga bisa turun mencicipi kemudahan mencicil rumah melalui fasilitas KPR.
Lalu, skema lain adalah memberikan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT). "Caranya dengan menabung secara rutin selama enam bulan dan menyiapkan uang muka sebesar 5 persen untuk membeli rumah," terangnya.
Kendati begitu, program ini baru akan berjalan pada 2018 mendatang. Kendati belum mau mengungkap target kucuran kreditnya, ia menyebut, program ini akan menjadi salah satu penopang BTN untuk mengejar target membiayai 750 ribu unit rumah.
Sementara itu, berdasarkan data November, BTN telah mengucurkan kredit untuk membiayai sekitar 223 ribu unit rumah melalui skema KPR subsidi dan non subsidi dan 326 ribu unit melalui kredit konstruksi. Adapun, total nilainya mencapai Rp60,94 triliun.
"Untuk KPR subsidi pertumbuhannya naik 34 persen (year to date/ytd) dan untuk KPR non subsidi naik 11 persen (ytd)," pungkasnya. (agi)