Pemerintah Imbau Hilirisasi Produk Desa Agar Untung Berlipat

Setyo Aji Harjanto, CNN Indonesia | Rabu, 20/12/2017 07:47 WIB
Pemerintah mengungkapkan pentingnya hilirisasi produk unggulan, khususnya di kawasan perdesaan, untuk menaikan nilai tambah. Pemerintah mengungkapkan pentingnya hilirisasi produk unggulan, khususnya di kawasan perdesaan, untuk menaikan nilai tambah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah mengungkapkan pentingnya hilirisasi produk unggulan khususnya di kawasan perdesaan untuk menaikan nilai tambah.

Direktur Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan (PKP) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Ahmad Erani Yustika mengatakan masing-masing desa memiliki produk unggulan tersendiri. Produk unggulan ini kemudian bisa dinaikan nilainya dengan hilirisasi.

Pasalnya menurut Erani, dengan hilirisasi produk komoditas unggulan perdesaan, nilai tambahnya bisa naik hingga 250 persen.



"Misalnya yang tadinya harganya Rp10 ribu bisa jadi Rp25 ribu. Ini kan naik 150 persen," ujarnya, Selasa (19/12).

Salah satu contohnya menurut Erani terdapat di kawasan perdesaan Pangalengan Kabupaten Bandung Jawa Barat, dimana produk unggulannya adalah kopi.

Dengan diberikan bantuan mesin penggiling, petani kopi di sana bisa memproduksi kopi sangrai dengan nilai tambah 300 persen dari nilai mentahnya.

Selain menaikan nilai tambah, menurut Erani hilirisasi produk di desa juga dapat menyerap tenaga kerja. Mesin penggiling kopi misalnya, membutuhkan lima pekerja operator dengan asumsi bisa digunakan 20 petani.


Selanjutnya, kopi yang diolah pun membutuhkan distributor yang bertugas menyalurkan produk hilir berupa bubuk kopi ke kota.

Erani mengungkapkan, saat ini masih banyak desa-desa yang hanya berakhir memproduksi produk mentah saja. Produk mentah tersebut, kata Erani, tidak banyak mengangkat nilai tambah bagi para pelaku ekonomi di desa.

"Dia berhenti hanya pada bahan baku. Memproduksi beras, buah-buahan, peternak ayam, sapi, jual ikan budidaya. Tepat pada titik itulah, nilai tambah tidak ada. Kecil sekali, sehingga sulit untuk mendongkrak kesejahteraan pelaku ekonomi di desa," imbuhnya. (gir/gir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK