Catatan Akhir Tahun

Arah 2018: Emiten Konstruksi Jadi Menu Utama Bursa Saham

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Jumat, 29/12/2017 15:25 WIB
Arah 2018: Emiten Konstruksi Jadi Menu Utama Bursa Saham sejumlah analis efek memproyeksi proyek pembangunan infrastruktur tahun depan lebih dikebut agar selesai sebelum pemerintah. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun 2018 menjadi masa kritis bagi pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang memiliki pekerjaan rumah besar untuk segera merampungkan seluruh proyek infrastruktur, khususnya target pembangunan yang tercantum dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).

Melalui Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2017, pemerintah menetapkan 245 proyek dalam daftar PSN dengan nilai total proyek mencapai Rp4.417 triliun. Berdasarkan sektornya, proyek terdiri dari pembangunan infrastruktur, ketenagalistrikan, hingga industri pesawat terbang.

Namun, hingga akhir November 2017, penyelesaian dari PSN ini belum sampai separuhnya. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat hanya empat proyek yang telah benar-benar rampung.
Mengamati kondisi riil di lapangan, sejumlah analis efek memproyeksi proyek pembangunan infrastruktur tahun depan lebih dikebut agar selesai sebelum pemerintahan Presiden Jokowi-Jusuf Kalla usai.


"Jadi jelang pemilihan presiden (Pilpres) 2019 banyak proyek yang akan selesai," ungkap Direktur Investa Saran Mandiri, Hans Kwee kepada CNNIndonesia.com, dikutip Jumat (29/12).

Kondisi ini dinilai akan menguntungkan emiten sektor konstruksi. Jika proyek infrastruktur dipercepat dan semakin menjadi perhatian pemangku kepentingan, maka pelaku pasar tak perlu lagi merasa ragu dengan kepastian pembiayaan atas berbagai proyek infrastruktur.

"Karena 2017 saham emiten konstruksi turun terus salah satunya karena ada kekhawatiran pemotongan anggaran untuk pembangunan infrastruktur," jelas Hans Kwee.

Untuk sektor konstruksi, Hans Kwee merekomendasikan saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), dan PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP).

Emiten konstruksi itu mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih hingga kuartal III 2017, meski dibarengi dengan arus kas yang negatif. Ke depan, prospek bisnis ketiganya terbilang cukup positif hingga tahun 2018 mendatang.
"Jadi tahun depan saya masih percaya dengan kinerja ketiganya," imbuh Hans Kwee.

Sementara itu, Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Kevin Juido menambahkan, sentimen tambahan lainnya untuk emiten di sektor konstruksi, yakni meningkatnya anggaran untuk proyek infrastruktur menjadi Rp410,4 triliun dibandingkan proyeksi tahun ini Rp390,2 triliun.

"Jadi anggaran untuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) juga meningkat," kata Kevin.

Pemerintah memang mengalokasikan anggaran untuk membangun infrastruktur sebesar Rp104,7 triliun kepada Kementerian PUPR pada tahun depan, naik 1,94 persen dari posisi anggaran tahun ini sebesar Rp102,7 triliun. Kemudian, anggaran untuk Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tumbuh 20,43 persen menjadi Rp44,2 triliun dari tahun ini Rp36,7 triliun.

"Kemudian beberapa proyek pada 2018 juga banyak yang selesai, jadi ada pembayaran sehingga positif untuk kas emiten konstruksi," sambung Kevin.

Senada, analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama berpendapat hal yang sama. Maka dari itu, ia menempatkan saham PT Adhi Karya Tbk (ADHI) dan Waskita Karya dalam posisi beli (buy) sepanjang tahun depan.

"Seiring dengan dukungan pemerintah, prospek Waskita Karya ke depannya akan semakin positif," tutur Nafan.

Nafan menjelaskan, berbagai kontrak baru yang diraih oleh perusahana pada kuartal III 2017 juga menambah sentimen positif bagi Waskita Karya. Hingga akhir September 2017, perusahaan meraup kontrak baru sebesar Rp44,4 triliun.

"Jadi, kontrak pengerjaan sampai kuartal III 2017 mencapai Rp131,1 triliun atau naik dari tahun 2016 (kuartal III) Rp104 triliun," papar Nafan.

Selanjutnya, Adhi Karya memiliki sentimen positif dari kesepakatan pembiayaan proyek Light Rail Transit (LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek) dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Total nilai investasi proyek tersebut akan ditanggung oleh keduanya, di mana KAI akan menggelontorkan dana Rp25,7 triliun dan Adhi Karya sendiri sebesar Rp4,2 triliun.

"Komitmen pemerintah dalam menjamin pendanaan proyek LRT Jabodebek diharapkan dapat memicu kinerja Adhi Karya ke depannya dalam rangka mengembangkan program infrastruktur strategis secara masif," ujar Nafan.
Pembangunan Light Rail Transit (LRT) di Jabodebek masih dalam proses penyelesaian.Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika
Pembangunan Light Rail Transit (LRT) di Jabodebek masih dalam proses penyelesaian.

Saham Emiten Konstruksi 2017 Landai

Di sisi lain, harga saham emiten konstruksi pada tahun ini terpantau melemah. Analis Mega Capital Indonesia Fikri Syayardi berpendapat, kondisi arus kas emiten konstruksi yang negatif memang membuat sebagian pelaku pasar mengurungkan niatnya untuk melakukan aksi beli pada saham konstruksi.

"Sistem bisnis emiten konstruksi ini memang mengeluarkan uang dulu dengan jumlah besar, kemudian seiring proyeknya berjalan baru terima pembayaran," ucap Fikri.

Maka itu, ada kekhawatiran dari pelaku pasar terkait pembayaran terhadap proyek infrastruktur kepada emiten konstruksi. Jika pembayaran tersendat, maka akan mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan.

Harga saham Waskita Karya telah turun 16,27 persen sejak awal tahun hingga 27 Desember 2017 ke level Rp2.160 per saham dari Rp2.580 per saham.

Sementara, Wijaya Karya terkoreksi hingga 35,2 persen ke level Rp1.555 per saham dari sebelumnya yang sempat berada di area Rp2.400 per saham. Diikuti oleh PTPP yang melemah 32,09 persen ke level Rp2.560 per saham dan Adhi Karya sebesar 13,38 persen ke level Rp1.845 per saham.

Namun begitu, Kevin berpendapat, kondisi ini sebenarnya wajar bagi bisnis emiten konstruksi karena memang sistemnya yang harus mengeluarkan modal besar terlebih dahulu. Nantinya, jika proyek sudah rampung 100 persen perusahaan akan menerima untung.

"Kalau pendanaan sudah selesai, operasional bisa positif lagi," terang dia

Daya Beli Bakal Topang Saham Konsumsi Barang

Di sisi lain, pelemahan gairah daya beli masyarakat sepanjang tahun ini diproyeksi membaik pada tahun 2018 ditopang oleh momen 171 Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Pasalnya, Pilkada di berbagai daerah tersebut akan menghabiskan dana yang tidak sedikit, khususnya untuk kampanye. Misalnya, partai politik (parpol) akan banyak membeli sembako untuk dibagikan kepada warga.

"Beras, minyak. Jadi memang ada alokasi dana untuk belanja," kata Fikri.

Untuk itu, Fikri merekomendasikan saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Terlebih lagi, penetrasi dari brand yang dipasarkan oleh kedua emiten ini sudah luas di seluruh Indonesia. Ditambah, harga sahamnya juga berada di area bawah saat ini. Sehingga, pelaku pasar bisa masuk di harga murah.

"Harga sahamnya memang turun karena ada isu daya beli yang melemah atau peralihan ke pembelian online," jelas Fikri.

Bila dilihat, harga saham Indofood Sukses Makmur pada 27 Desember 2017 berakhir di level Rp7.600 per saham. Padahal, pada bulan awal Juni lalu sempat bertengger di level sekitar Rp8.825 per saham.

Kemudian, harga saham Indofood CBP Sukses Makmur berada di level Rp9.000 per saham pada 27 Desember 2017. Beruntung, harga sahamnya pelan-pelan kembali menanjak dari posisi sebelumnya yang sempat anjlok hingga Rp8.450 per saham.

Selain itu, analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra memaparkan, dengan daya beli yang kembali tumbuh maka tingkat konsumsi rokok pun juga kian tinggi.

Hal ini tentu menjadi angin segar bagi emiten rokok, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Keduanya masuk dalam 10 emiten dengan nilai kapitalisasi terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

"Harga rokok mau naik berapapun pasti akan laris, tetap dibutuhkan," kata Aditya. (lav/bir)