Harga Minyak Bertahan di Level Tertinggi dalam Tiga Tahun

Safyra Primadhyta , CNN Indonesia | Jumat, 12/01/2018 07:10 WIB
Harga Minyak Bertahan di Level Tertinggi dalam Tiga Tahun Harga minyak dunia bertahan di level tertingginya dalam tiga tahun terakhir setelah kembali naik pada Kamis (11/1), waktu Amerika Serikat (AS). (REUTERS/Lucy Nicholson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia bertahan di level tertingginya dalam tiga tahun terakhir setelah kembali naik pada Kamis (11/1), waktu Amerika Serikat (AS). Harga minyak mentah Brent sempat menembus US$70 per barel dipicu oleh tanda-tanda penyetatan pasokan minyak mentah di AS.

Dilansir dari Reuters, Jumat (12/1), harga minyak berjangka Brent ditutup naik tipis sebesar US$0,6 menjadi US$69,26 per barel, setelah sempat menyentuh level US$70,05 per barel selama sesi perdagangan, level tertinggi sejak November 2014. Harga

Brent pada penutupan perdagangan masih berada di titik tertingginya dalam tiga tahun terakhir. Sejak awal tahun, harga Brent telah naik 5 persen, melanjutkan kenaikan harga yang terjadi pada akhir tahun lalu.


Sementara, harga minyak mentah AS West Teas Intermediate (WTI) menanjak US$0,23 menjadi US$63,8 per barel, tertinggi sejak Desember 2014.

Index Kekuatan Relatif (RSI), yang mengukur kecepatan dan luas dari kenaikan harga, menunjukkan bahwa minyak dalam kondisi jenuh beli. Hal ini mengindikasikan kenaikan harganya terlalu cepat dan terlalu jauh.

"Minyak berakting seperti saham internet dan ketika harga minyak demikian, Anda tahu minyak akan gosong," ujar Kepala Analis Teknis United-ICAP Walter Zimmerman.

Sebelumnya, harga minyak telah mengalami tren menanjak berkat terus turunnya pasokan global, terutama di AS, konsumen minyak terbesar di dunia.

Rabu lalu, Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menyatakan persediaan minyak mentah turun hampir 5 juta barel menjadi 419,5 juta barel sepanjang pekan lalu.

Sementara, produksi melambat sebesar hampir 300 ribu barel per hari (bph). Analis memperkirakan perlambatan tersebut akibat cuaca yang lebih dingin dari biasanya di AS.

Genscape memperkirakan penarikan lebih dari 3,5 juta barel pada titik pengiriman Cushing, Oklahoma untuk kontrak berjangka minyak mentah AS untuk pekan yang berakhir Kamis. Hal ini menambah sentimen kenaikan harga pada perdagangan kemarin.

Di sisi lain, kesepakatan pemangkasan produksi sebesar 1,8 juta bph yang dilakukan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan negera produsen minyak lain, termasuk Rusia, telah menyokong harga minyak.

Menteri Perminyakan Uni Emirat Arab dan Presiden OPEC Suhail al-Mozrouei berharap pasar bakal seimbang tahun ini. Selain itu, kartel produsen juga akan memegang komitmen kesepatan pengurangan pasokan hingga akhir 2018.

Harga minyak dunia juga diuntungkan dari melemahnya kurs dolar AS yang mendekati level mingguan terendah pada Kamis lalu. Pasalnya, harga minyak relatif menjadi lebih murah di mata pelaku pasar yang memegang mata uang lain.


Volume perdagangan lebih tinggi dari rata-rata, dengan aktivias tertinggi pada pukul 10.00 EST seiring dengan kenaikan harga. Lebih dari 820 ribu kontrak minyak mentah AS berpindah tangan pada Kamis, jauh di atas rata-rata harian yang sebesar 619 ribu kontrak selama 200 hari perdagangan terakhir.

Analis menyatakan harga Brent kemungkinan tidak akan bertahan di level US$70 per barel kecuali ada berita tambahan dari Timur Tengah yang mendongkrak sentimen kenaikan harga.

Berdasarkan laporan Komitmen Pedagang (Commitment of Traders/CoT) yang dirilis Intercontinental Exchange (ICE), spekulan menaikkan kepemilikan beli bersih [net long holdings] atas kontrak minyak mentah berjangka Brent dan opsi pada pekan yang berakhir pada 2 Januari ke rekor baru. (gir/gir)


BACA JUGA