Harga Beras di Jakarta Masih Lebih Tinggi Dibandingkan HET

Galih Gumelar & Dika Dania Kardi , CNN Indonesia | Sabtu, 13/01/2018 19:40 WIB
Harga Beras di Jakarta Masih Lebih Tinggi Dibandingkan HET Jika mengacu pada Permendag 57/2017, berdasarkan pantauan hari ini harga beras medium di Jakarta di pengecer masih di atas HET yang diatur sebesar Rp13.000. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga beras medium di tingkat eceran di DKI Jakarta tercatat masih lebih tinggi dibandingkan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Berdasarkan pantauan, harga beras medium di tingkat pengecer pada hari ini masih bertengger di atas Rp13 ribu per kilogram (kg). Harga ini terbilang lebih tinggi dibandingkan HET yang ditetapkan pemerintah lewat Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 57 Tahun 2017 sejak 1 September 2017 silam.

Dalam beleid tersebut pemerintah menetapkan HET beras di pulau Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara Barat sebesar Rp9.450 per kg.


Sementara itu, HET beras medium di Sumatera (kecuali Lampung dan Sumatera Selatan), Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan tercatat Rp9.950 per kg. Dan, HET beras medium tertinggi terdapat di Papua dan Maluku sebesar Rp10.250 per kg.

Mega, seorang pedagang beras di PD Pasar Jaya Gondangdia, Jakarta Pusat mengatakan dalam catatan dirinya harga ini telah naik dalam dua pekan terakhir.

“Supplier mengatakan bahwa ini gara-gara cuaca buruk dan tanaman banyak yang tidak panen. Ini sudah berlangsung selama dua minggu,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (13/1).

Dari beras yang ia jual, Mega mengatakan beras medium dengan merek BMD dijual Rp13.500 per kg, sementara itu beras medium dengan merek Solo dijual Rp14 ribu per kg.

“Masih belum tahu (kapan harga beras turun), soalnya tidak ada tanda-tandanya,” ujar Mega.

Sementara itu, Tuti, pedagang beras lainnya mengatakan kenaikan harga beras itu belum mengubah drastis penjualannya. Perubahan yang terlihat, katanya, hanya penjualan beras medium dan yang kualitas di bawahnya.

“Kalau pun ada yang berubah ke beras yang kualitasnya lebih rendah, itu jumlahnya sedikit,” kata Tuti.


Sementara itu, dilansir dari data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional per 12 Januari 2018, rata-rata harga beras medium di Indonesia mencapai Rp11.950 per kg.

Adapun, harga beras termahal dicatat provinsi DKI Jakarta dan Kalimantan Tengah dengan harga rata-rata Rp13.600 per kg.

Berdasarkan data daring yang dirilis Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, harga rata-rata beras grosir per 13 Januari 2018 adalah di atas Rp11.000.

Hanya IR-64 II yang berada di bawahnya yakni dengan harga Rp8.900. Sementara itu IR-64 I (Rp12.475), IR-64 II (11.825), dan IR-42 (12.600).

Lalu, Cianjur Kepala (Rp14.525), Cianjur Slyp (Rp13.275), Setra (Rp13.550), Saigon (Rp12.700), Muncul I (Rp12.600), Muncul II (Rp11.750), dan Muncul III (Rp11.275).

Semua harga beras itu per kilogramnya mengalami tren kenaikan saban harinya sejak awal tahun ini, 1 Januari 2018. Seperti beras Cianjur Kepala mengalami kenaikan dari 1 Januari dengan harga Rp13.950 hingga hari ini Rp14.525. Lalu Setra pada 1 Januari tercatat Rp13.000, dan terus naik hingga hari ini Rp13.550. Sementara itu, Saigon tercatat Rp12.200, dan terus naik hingga hari ini Rp12.700.

Sementara itu, stok beras di PIBC sepanjang Januari ini berada di kisaran 31.000-35.000 ton. Data terakhir per 12 Januari adalah stok awal 31.593 ton dan stok akhir adalah 31.333 ton. Per hari itu stok beras yang masuk adalah 3.009 ton, dan keluar 3.269 ton.


Tengah pekan ini Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan pemerintah segera membuka keran impor beras jenis khusus sebanyak 500.000 ton. Hal ini dilakukan untuk mengatasi permasalahan lonjakan harga beras dan pasokan beras yang sedang menurun.

"Saya sampaikan tidak mau mengambil risiko kekurangan pasokan, saya mengimpor beras khusus, beras yang tidak ditanam dalam negeri," ujar Enggartiasto saat konferensi pers di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (11/1)

Ia mengatakan, impor ini akan dilaksanakan oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) yang akan mendatangkan beras dari Thailand dan Vietnam. Di samping itu, ia memastikan bahwa kualitas beras khusus ini mirip dengan beras yang diproduksi dalam negeri yakni varietas IR 64.

Kriteria beras khusus ini dimuat di dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 1 Tahun 2018, di mana beras tersebut harus memiliki derajat sosoh 5 persen dengan kadar air yang relatif lebih kering ketimbang beras medium dan premium.

“Dan kami menjamin, nanti beras khusus itu akan kami jual dengan harga beras medium,” papar dia.

Pascaimpor ini dilakukan, ia berharap harga beras di bulan Februari sudah kembali sesuai HET. (stu)