ANALISIS

Reshuffle Kabinet dan Nasib 'Jokowinomics' di Pilpres 2019

Agustiyanti, CNN Indonesia | Rabu, 17/01/2018 18:45 WIB
Reshuffle Kabinet dan Nasib 'Jokowinomics' di Pilpres 2019 Presiden Joko Widodo memilih untuk tidak mengutak-atik tim ekonominya dalam reshuffle kabinet yang dilakukan hari ini. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) boleh jadi belum puas dengan raihan kinerja tim ekonominya, jika melihat beberapa data indikator ekonomi saat ini. Target pertumbuhan ekonomi misalnya, saat ini masih di kisaran 5 persen, masih jauh dari target yang dipatok dalam Rencana Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebesar 7 persen pada 2019.

Indikator ekonomi lainnya, seperti pengangguran, kemiskinan, dan rasio gini yang juga belum menunjukkan tanda-tanda mendekati target RPJMN di 2019 mendatang. Kendati demikian, Jokowi memilih untuk tak mengutak-atik tim ekonominya pada kabinet kerja. Reshuffle kabinet pada hari ini (17/1) hanya dilakukan Jokowi pada posisi Menteri Sosial dan Kepala Staf Presiden.

Target RPJMN dan Realisasi Indikator Ekonomi. (CNN Indonesia/Timothy Loen)

Jokowi menunjuk Idrus Marham menggantikan Khofifah Indar Parawansa sebagai Menteri Sosial, karena Khofifah sebelumnya telah mengajukan pengunduran diri. Khofifah berencana maju sebagai Calon Gubernur Jawa Timur dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun ini.


Kepala Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal menebak, pergantian Kepala Staf Presiden ke tangan Mantan Panglima TNI Moeldoko, salah satunya terkait dengan perubahan fokus pemerintah dari masalah sosial ekonomi ke keamanan dan politik.

"Dengan sekarang Muldoko menjadi KSP, fokus akan berpindah ke masalah keamanan dan politik atau hal-hal yang berkaitan dengan itu. Masalah sosial ekonomi dianggap tak lagi menjadi yang paling penting," ujar Yose kepada CNNIndonesia.com, Rabu (17/11).

Yose menilai, Jokowi seharusnya dapat memanfaatkan momentum reshuffle kabinet untuk turut mengganti sejumlah menteri yang kurang moncer kinerjanya. Apalagi, sejumlah masalah ekonomi saat ini tengah menghantui pemerintah. Salah satunya, terkait kebijakan impor beras.

"Gonjang-ganjing harga beras ini menunjukkan kebijakan terkait beras yang tidak menghasilkan. Jadi, sebenarnya, reshuffle yang ada saat ini dipergunakan untuk struktur kabinet yang sesuai," terang dia.


Yose menduga, pilihan Jokowi yang tak mengubah tim ekonomi-nya lantaran berpikir tak banyak yang dapat dilakukan untuk mengubah perekonomian dalam sisa waktu pemerintahannya yang tersisa kurang dari dua tahun. Selain itu, Jokowi mungkin khawatir, efek yang ditimbulkan dari sisi politik bakal lebih besar.

"Pak Presiden mungkin khawatir kalau diacak, ada konsokuensi ke relasi kepartaian, apakah opisisi atau pendukung dalam konstelasi politik. Padahal, Pak Presiden seharusnya harus mengambil kebijakan yang menentukan bagi pemilih, dan ekonomi saat ini mulai menjadi indikator ekonomi," tuturnya.

Saat ini, menurut Yose, para pemilih sudah mulai rasional dalam menentukan pilihan. Adapun dalam pemilihan presiden 2019 mendatang, ia menduga, isu ekonomi bakal menjadi salah satu indikator utama yang dilihat pemilih dalam menentukan calonnya.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto juga menilai, Jokowi seharusnya mengambil momentum ini untuk mengubah tim ekonominya di pemerintahan. Perubahan tersebut padahal dapat memberikan optimisme baru ditengah kinerja ekonomi pemerintah yang belum dapat dikatakan kinclong.

"Reshuffle ini lebih untuk konsolidasi kekuatan politik. Padahal, Presiden pernah bilang tidak puas dengan kinerja ekonomi, tapi tidak juga mengganti menteri ekonominya," ungkap dia.


Saat ini, menurut Eko, sebagian menteri kabinet kerja yang membawahi bidang ekonomi tak dipilih karena profesionalitas. Sebagian, menurut dia, dipilih karena partai, dan sebagian lagi karena pernah ikut memenangkan Presiden Jokowi.

"Tentu ini memengaruhi investor dan pelaku ekonomi jika kebijakan mereka (menteri-menteri ekonomi) tak menghasilkan, sehingga wait and see terus berlanjut," jelas dia.

Senada dengan Yose, Eko melihat isu ekonomi akan berpengaruh besar dalam pemilihan presiden yang akan datang. Adapun ia menilai, terdapat dua isu ekonomi yang patut dikhawatirkan Presiden Jokowi dapat mengganjalnya di Pilpres 2019, yakni terkait dengan kenaikan harga minyak dunia dan kebijakan Amerika Serikat.

"Kenaikan harga minyak dunia bisa berpengaruh ke harga BBM, sedangkan kebijakan Amerika Serikat berpengaruh kepada nilai tukar rupiah," tegas dia.

Untuk itu, salah satu yang penting untuk dilakukan oleh Jokowi adalah menentukan calon Gubernur Bank Indonesia (BI) yang dapat menjaga kepercayaan pasar. Seperti diketahui, Gubernur BI saat ini Agus Martowardojo akan habis masa jabatannya pada Mei 2018 mendatang. Kendati demikian, Agus Martowardojo masih dapat ikut kembali dalam bursa pemilihan Gubernur BI periode selanjutnya.


Sementara itu, Kepala Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih menilai, reshuffle kabinet di tataran menteri bidang ekonomi memang tidak perlu, kendati realisasi indikator-indikator ekonomi belum memuaskan. Pasalnya, pemerintah hanya memiliki sisa waktu kurang dari dua tahun guna mengejar target-target yang dipatoknya sendiri dalam RPJMN.

"Saya rasa Presiden akan fokus mencapai target-target APBN atau RPJMN. Angka pengangguran mungkin sudah hampir mendekati, kemiskinan masih jauh, demikian juga dengan rasio," ungkap dia.

Lana menyebut, berdasarkan survei yang dilakukan sebuah lembaga, popularitas Presiden Joko Widodo saat ini melampaui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika akan mengikuti pemilihan presiden periode kedua. Kendati demikian, masih ada sejumlah tantangan yang dapat mengganjal Jokowi untuk kembali terpilih.

"Tentu masih ada risiko, misalnya tekanan kenaikan harga atau inflasi. Jangan sampai harga-harga barang meningkat tak terkendali. Kemudian, risiko kenaikan harga minyak, kalau harga minyak naik seberapa mungkin pemerintah tak menaikkan harga BBM," tambah dia.

Jika risiko-risiko tersebut dapat dikendalikan, menurut Lana, peluang Jokowi untuk kembali memenangkan Pilpres 2019 semakin terbuka. (agi/agi)