Namun, Ketua REI DKI Jakarta Amran Nukman mengatakan bahwa pemerintah provinsi juga perlu berkontribusi untuk memudahkan kerja pengembang dalam menciptakan hunian terjangkau tersebut. Ia menyebut, antara lain memudahkan dan mempersingkat proses izin pembangunan yang dilakukan.
“Sekarang ini kan banyak sekali urutannya dan lama. Jumlahnya dikurangi dan waktunya dipersingkat lah,” ujarnya di Balai Kota, Kamis (18/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Tadi, minta keringanan. Misalnya, biaya pelampauan KLB diringankan atau mungkin dihapus. Tetapi, kami komitmen dan tanda tangan untuk bantu program bapak (gubernur),” imbuh dia.
Nah, untuk mewujudkan rumah murah dengan DP nol rupiah, REI mengusulkan agar pemerintah provinsi menggandeng PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang masih memiliki lahan kosong untuk bisa ikut membangun hunian vertikal berkonsep transit oriented development (TOD).
Sehingga, sambung Amran, rumah susun sederhana milik (rusunami) untuk masyarakat bisa hadir di tengah-tengah kota.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyadari keluhan para pelaku usaha. Ia sendiri menyampaikan hal itu di hadapan Founder and Chairman Ciputra Group, Ciputra.
"Tadi pak Ci (CIputra) sampaikan perlu insentif. Kami akan pikirkan insentifnya seperti apa, pak. Mungkin KLB, mungkin juga kemudahan perizinan," terang Sandi.
Hal ini untuk menutupi kebutuhan rumah (backlog) dengan harga terjangkau di ibu kota yang mencapai 300 ribu unit. (bir)