Termakan Rayuan Manis Tapi 'Palsu' Sipoa Group

Tim CNN Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 30/01/2018 11:21 WIB
Termakan Rayuan Manis Tapi 'Palsu' Sipoa Group Sipoa Group dilaporkan ke Polda Jatim karena tak kunjung membangun apartemen seperti yang telah diiklankan. Konsumen mendesak uang mereka dikembalikan. (CNN Indonesia/Kurniawan).
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang pria bertubuh tegak tampak gelisah duduk di depan warung kopi. Tatapan matanya ke arah lalu lalang kendaraan yang melintas di depannya pada pagi itu.

Dia menunggu di warung yang terletak di depan kantor Royal Afatar World (RAW) yang berlokasi di Waru Sidoarjo, Jawa Timur. Ini adalah satu kantor pengembang milik PT Sipoa Legacy Land atau yang dikenal dengan Sipoa Group.

Sekitar 30 menit berselang, seorang perempuan datang menghampiri dan berjabat tangan. Beberapa menit kemudian datang lah dua orang lelaki yang ikut gabung semeja bersamanya.


"Tunggu di sini saja, nanti kita masuk sama -sama," kata pria itu, Senin (15/1).


Ketika sudah banyak orang yang datang, sekitar pukul 09.30 WIB, pria yang menunggu sejak pagi itu itu datang menghampiri petugas keamanan RAW, dia meminta petugas keamanan membuka gerbang yang terbuat dari seng berwarna biru itu.

"Cepat buka gerbangnya," katanya.

Namun petugas menolak untuk membuka gerbangnya. "Mohon maaf pak, gerbangnya tidak boleh dibuka karena perintah pimpinan," ucap petugas.

Pria itu langsung menggertaknya dengan nada keras. "Pimpinan siapa, cepat buka gerbangnya atau kami akan merusak gerbangnya.”


Melihat massa yang banyak, akhirnya dia pun membuka gerbang dan orang - orang langsung masuk menggunakan mobil serta sepeda motornya.

Massa itu diketahui calon pembeli unit apartemen Royal Afatar World (RAW) dan apartemen Royal Mutiara Residence (RMR), yang menghadiri undangan atau pertemuan tertutup dengan pihak manajemen Sipoa Grup.

CNNIndonesia.com mencoba menghubungi Anthony selaku Ketua Paguyuban Pembeli unit apartemen Royal Afatar World pada pagi itu.

Namun, Anthony masih berada di Markas Kepolisian Daerah Jawa Timur (Mapolda Jatim) untuk mengetahui informasi soal pelaporan konsumen apartemen RAW terhadap manejemen Sipoa Grup.

"Saya masih di Polda sebentar, habis itu saya langsung meluncur ke sana," kata Anthony di ujung telepon.

Karena konsumen masuk ke area kantor, personel keamanan pun di kantor RAW pun ditambah. Orang yang hendak masuk ke area kantor RAW, harus diperiksa dulu dan diintegrasikan terlebih dahulu.

Saat berada di dalam area kantor RAW, sudah ada ratusan konsumen yang tampak resah menunggu kedatangan manejemen Sipoa Grup.

CNNIndonesia.com berusaha mengambil gambar dari jarak yang lumayan jauh, untuk memotret plakat nama kantor Royal Afatar World yang berubah menjadi Royal Afather World.

Kesaksian Konsumen

Anthony sendiri menyatakan dirinya tertarik membeli karena mengetahui iklannya dari surat kabar sebelumnya. Pria itu berencana akan tinggal di Surabaya pada 2018.

Dia pun menyetor uang muka Rp10 juta dan telah mengangsur selama 23 kali. Pada pertengahan 2016, dia pun mempertanyakan kembali perkembangan proyek tersebut pihak layanan konsumen.

“Rencananya dibangun kapan? Tidak tahu. Saya sudah hampir 50 persen duit, tapi dia tak bisa kasih jawaban,” kata Anthony.

Hingga menjelang akhir 2017, perkembangan proyek itu tak pernah ada kejelasan. Pada September lalu, Anthony pun mengajukan pembatalan dan meminta uangnya dikembalikan, namun hingga kini uang tak jua masuk ke kantongnya.


Hal itu pun membuat pria itu berkoordinasi dengan calon pembeli lainnya. Akhirnya dia mendapatkan bahwa ada 71 konsumen yang bernasib serupa. Pihaknya pun menggandeng Unit Konsultasi dan Bantuan Hukum (UKBH) Universitas Airlangga, Surabaya.

Sedangkan laporan ke Polda Jatim sendiri dilakukan pada Desember lalu dengan dugaan penipuan.

CNNIndonesia.com berusaha mengkonfirmasi pihak manajemen Sipoa Group terkait dengan hal ini, namun tak ada respons. Komisaris grup perusahaan Budi Santoso juga tak merespons pertanyaan terkait dengan masalah tersebut.

Sipoa Grup sendiri diketahui memiliki 10 anak usaha lainnya dengan pelbagai proyek yang tersebar di antaraya di Bali dan Surabaya.

Konsumen lainnya, Yulia Tenoyo, menuturkan Sipoa Group pernah mengadakan pameran produk propertinya di tempat umum macam mal. Dia pun tertarik membelinya untuk unit apartemen di Bali dan Surabaya.

“Di situ perjanjian, tertulis 31 desember 2017, IMB (Izin Membangun Bangunan) tidak keluar uang dikembalikan. Ini sudah tanggal 25 Januari, mereka tak memberikan klarifikasi,” katanya.



Ingin Uang Kembali

Perempuan itu mengatakan tak hanya dirinya saja yang kena masalah, namun sebagian keluarganya pun termakan promosi Sipoa Group, yang akhirnya bermasalah.

Yulia yang sebelumnya ikut dalam pertemuan dengan pihak manajemen mengatakan konsumen dijanjikan skema pembayaran pada 5 Februari nanti—selain ada opsi relokasi. “Saya tidak mau direlokasi, kami hanya mau uang itu kembali 100 persen,” katanya.

Namun hingga kini, uang Anthony dan Yulia serta ratusan calon konsumen macam tak jelas ujungnya akan berakhir di mana.

(dik/asa)