Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan, dengan target beroperasi dalam tiga tahun ke depan, maka infrastruktur dan para industri penunjang diharapkan mulai masuk ke kawasan tersebut.
Komponen infrastruktur meliputi, bandara, landasan pesawat, gedung-gedung untuk industri, dan fasilitas pendukung lainnya. Sedangkan, dari sisi industri penunjang, pemerintah ingin ada industri pembuat pesawat, produksi komponen dan suku cadang, perusahaan pemeliharaan, hingga pusat pengembangan teknologi dan Sumber Daya Manusia (SDM).
"Terutama untuk industri komponen, itu kami harap bisa lebih cepat, karena kami juga melihat ada upaya dan ketertarikan dari swasta untuk bergabung," ujar Putu, sapaan akrabnya kepada CNNIndonesia.com di sela perhelatan Singapore Airshow 2018 di Changi Exhibition Area, Rabu (7/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya pelaku industri penerbangan dan penunjangnya yang berasal dari dalam negeri, kehadiran kawasan itu juga diyakini mampu menggaet para investor. Sebab, dengan adanya kawasan ini, peluang bagi investor untuk menanamkan modalnya jadi lebih besar dan leluasa.
"Makanya, kalau ada investor yang mau masuk, mereka harus B2B langsung dengan perusahaan yang ada, misalnya Garuda dengan GMF, Lion dengan Batam Aero Teknik. Sekarang mereka bisa langsung masuk ke kawasan dan terhubung dengan banyak industri sekaligus," terangnya.
Kendati demikian, Putu belum bisa memberi gambaran seberapa besar potensi investasi hingga dampaknya terhadap pertumbuhan industri penerbangan dengan adanya kawasan industri penerbangan terpadu ini. Sebab, pemerintah harus lebih dulu menyiapkan infrastruktur dan industri untuk lebih meyakinkan investor.
Namun secara keseluruhan, Putu berharap, kehadiran kawasan industri ini dapat membuat pertumbuhan industri produksi komponen dan suku cadang pesawat sejalan dengan pertumbuhan sektor penerbangan.
"Tahun lalu, industri penerbangan dilihat dari pertumbuhan jumlah penumpang bisa sekitar 10 persen. Nah, harusnya industri komponennya juga sama, tapi sekarang masih 5 persen. Makanya, kami harapkan perlahan bisa mengekor hingga sama dengan industri penerbangannya," pungkasnya. (lav/bir)