'PLN Rugi Jika Batu Bara Masuk Penyesuaian Tarif Listrik'

Agustiyanti, CNN Indonesia | Rabu, 07/02/2018 19:39 WIB
'PLN Rugi Jika Batu Bara Masuk Penyesuaian Tarif Listrik' Serikat Pekerja PLN menyebut, BUMN listrik tersebut akan merugi jika komponen harga batu bara dimasukkan dalam hitungan penyesuaian tarif listrik yang baru. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN disebut akan merugi jika komponen harga batu bara dimasukkan dalam hitungan penyesuaian tarif (tariff adjustment) bersama tiga komponen lainnya, yakni harga minyak, inflasi bulanan dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Ketua Umum Serikat Pekerja PLN Jumadis Abda menilai, komponen harga batubara yang saat ini tengah mengalami lonjakan dikhawatirkan akan membuat tarif listrik naik dan menambah beban rakyat. Saat harga listrik naik, serapan listrik masyarakat juga diperkirakan akan turun, sehingga bisa memuat PLN ikut merugi karena tetap terbenani dengan banyaknya pembangkit yang harus tetap dibayar.

"Bukan hanya masyarakat yang rugi, PLN juga rugi karena sekarang ini pembangkit sudah surplus, sementara pemakaian masyarakat turun. Jadi masyarakat rugi, PLN juga rugi kala tarif listrik naik," ujar Jumadis, seperti dikutip dari Antara, Rabu (7/2).


Jumadis pun meminta pemerintah untuk mengendalikan harga batubara yang kian merangkak naik sehingga mengganggu kinerja keuangan perusahaan. SP PLN pun khawatir, dimasukkan komponen harga batubara dalam formula penyesuaian tarif justru membuat konsumen listrik dirugikan karena pemasukan harga batubara acuan (HBA) dalam penghitungan tarif hanya akan menaikkan biaya pokok produksi (BPP) listrik.


"Kami minta tarif turun. BPP bisa turun dengan cara menurunkan biaya energi primernya, yaitu batubara dan gas alam," katanya.

SP PLN menyebut pengendalian harga energi primer terutama batubara diperlukan demi menjaga kinerja BUMN listrik tersebut. Menurut Jumadis, bila energi primer bisa dikelola dengan baik, PLN akan dapat melakukan penghematan hingga Rp40 triliun. Penghematan tersebut, belum menghitung efisiensi lain seperti proyek di Belawan yang menggerus keuangan PLN.


"Tarif listrik tidak perlu naik kalau BPP dikelola," ujarnya.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM tengah menggodok aturan penyesuaian tarif listik berdasarkan harga batubara yang belakangan melonjak tinggi. Dengan dimasukkan batubara sebagai komponen penyesuaian tarif listrik, maka tarif listrik akan mengikuti fluktuasi harga batubara. (Antara/agi)