ANALISIS

Meneropong Saham Tambang Usai Komoditas Menanjak

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 19/02/2018 09:20 WIB
Meneropong Saham Tambang Usai Komoditas Menanjak Emiten pertambangan masuk dalam daftar rekomendasi saham sejumlah analis efek untuk pekan ini, seiring dengan penguatan harga komoditas sepanjang pekan lalu. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Emiten berbasis pertambangan masuk dalam daftar rekomendasi saham sejumlah analis efek untuk pekan ini, seiring dengan penguatan harga komoditas sepanjang pekan lalu. Rekomendasi saham ini khususnya menyasar emiten sektor batu bara.

Analis Lotus Andalan Sekuritas, Krishna Setiawan mengatakan, pertumbuhan harga batu bara sepanjang pekan lalu naik signifikan hingga 3,46 persen. Pasalnya, pada perdagangan Kamis (15/2), harga batu bara ditutup dengan harga US$104,4 per metrik ton. Sementara, pada pekan sebelumnya harga batu bara berakhir di level US$100,9 per metrik ton.

"Harga komoditas semua bangkit (rebound), tapi yang dominan paling disukai masih batu bara," ucap Krishna kepada CNNIndonesia.com, dikutip Senin (19/2).


Untuk itu, Krishna menempatkan saham PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) dan PT Indika Energy Tbk (INDY) dalam area beli (buy). Kebetulan, pergerakan kedua saham ini kurang cukup baik pada perdagangan akhir pekan lalu, Kamis (15/2).


Saham Indika Energy terpantau stagnan di level Rp4.330 per saham. Namun, angka itu sebenarnya sudah lebih baik dibandingkan dengan penutupan perdagangan awal pekan lalu, Senin (12/2) yang berada di level Rp4.130 per saham.

Sementara, saham Delta Dunia Makmur terkoreksi tipis 0,45 persen ke level Rp1.115 per saham. Hanya saja, sama seperti Indika Energy, posisi saham Delta Dunia Makmur pada Kamis (15/2) sudah lebih positif dari Senin (12/2) yang masih di area Rp1.105 per saham.

Dengan kata lain, pelaku pasar bisa melakukan aksi beli di harga murah atau buy on weakness terhadap dua saham tersebut.

Terlebih lagi, kinerja keuangan keduanya terpantau positif pada kuartal III 2017. Indika Energy berhasil membukukan laba bersih sebesar US$81,35 juta setelah merugi pada kuartal III tahun 2016 sebesar US$20,59 juta.


Sementara, laba bersih Delta Dunia Makmur tercatat sebesar US$31,43 juta pada sembilan bulan pertama tahun 2017. Angka itu naik 24,08 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016 sebesar US$25,33 juta.

"Kemudian saham pertambangan lainnya PT Medco Energi Internasional Tbk juga bisa dibeli," tutur Krishna.

Emiten berkode MEDC ini merupakan perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi serta produksi minyak dan gas (migas). Tak heran, kenaikan harga minyak dunia sebesar 0,52 persen menjadi US$60,74 per barel akan menjadi sentimen positif bagi perusahaan.

"(Harga minyak dunia) naik dari US$60,42 per barel menjadi US$60,74 per barel," jelas Krishna.

Pada akhir pekan lalu, Kamis (15/2), harga saham Medco Energi hampir bergerak stagnan atau hanya naik tipis 0,83 persen ke level Rp1.215 per saham.

Meneropong Saham Tambang Usai Komoditas Menanjak(CNN Indonesia/Safir Makki)

Angin Segar Sejak 2017


Kepala Riset MNC Sekuritas, Edwin Sebayang juga optimistis dengan kinerja saham emiten di sektor batu bara lainnya, seperti PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

"Harga komoditas batu bara di atas US$100 per metrik ton, penjualan perusahaan akan bagus," terang Edwin.


Bila dikaji kembali, harga saham emiten pertambangan telah mendapatkan angin segar sejak setahun terakhir atau tepatnya tahun 2017, di mana awal mula harga batu bara kembali menanjak setelah beberapa tahun lalu terus merosot.

Hal ini jelas berpengaruh pada pergerakan indeks sektor pertambangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sektor tersebut beberapa kali terus memimpin penguatan indeks sektoral bila dilihat secara mingguan. Hal ini kembali terjadi pada pekan lalu, di mana penguatan tertinggi kembali digenggam oleh sektor pertambangan sebesar 4,88 persen.

Untuk harga sahamnya sendiri, seluruh emiten batu bara yang direkomendasikan Edwin kompak berakhir di teritori positif pada Kamis (15/2). Lebih detil, saham Indo Tambangraya Megah berada di level Rp30.075 per saham dan Harum Energy di level Rp3.260 per saham.

Kemudian, harga saham Bumi Resources sebesar Rp326 per saham, Bukit Asam di level Rp3.240 per saham, dan Adaro Energy di level Rp2.470 per saham.


"Target harga untuk Indo Tambangraya Megah sebesar Rp37.000 per saham, Harum Energy bisa ke Rp3.800 per saham," kata Edwin.

Ia melanjutkan, MNC Sekuritas memasang target harga untuk Adaro Energy sebesar Rp2.800 per saham, Bumi Resources sebesar Rp600 per saham, dan Bukit Asam sebesar Rp3.500 per saham.

"Lalu untuk logam ada emiten PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)," lanjut Edwin.

Seperti diketahui, harga nikel sepanjang pekan lalu melonjak 6,27 persen dari US$13.170 per metrik ton menjadi US$13.997 per metrik ton. Begitu juga dengan harga emas yang naik 2,42 persen menjadi US$1.351 per ounce dari sebelumnya US$1.319 per ounce. (gir/gir)