Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Doddy Zulverdi mengatakan pelemahan rupiah juga disebabkan sentimen pengambilan keputusan yang akan dilakukan oleh Federal Open Market Committee (FOMC) pada Maret 2018. Pengumuman terkait kebijakan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) yang berpotensi meningkat itu dikhawatirkan membuat nilai tukar rupiah lemah.
"Gubernur The Fed yang baru Jerome Powell, melalui pidatonya di Kongres AS, itu merupakan pernyataan yang lebih hawkish, bahwa mereka yakin ekonomi terus tumbuh dan mencapai target, sehingga akan mendukung kenaikan suku bunga acuan The Fed," kata Doddy di kantornya, Kamis (1/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seluruh kombinasi ini menyebabkan rupiah tertekan, tapi ini fenemona global, sehingga dampaknya tak hanya ke Indonesia, semuanya terdampak," katanya.
Kedua aset investasi di Negeri Paman Sam itu dianggap sudah terlalu tinggi, sehingga memberi tekanan pada rupiah.
"Kami berharap setelah ini ada koreksi di harga saham dan obligasi di AS, tetapi harus menunggu pernyataan FOMC pada pekan kedua Maret. Mereka lakukan dulu (beri pengumuman), baru setelah itu ada koreksi," jelasnya.
Sementara di dalam negeri, BI akan terus berupaya menjaga inflasi agar tetap sesuai dengan target sebesar 3,5 persen plus minus satu persen, sehingga bisa turut menjaga suku bunga acuan BI (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) tetap di angka 4,25 persen.
"Hal yang dapat kami sampaikan adalah level suku bunga di 4,25 persen itu tetap, tapi kami terus memantau kondisi di luar. Kalau The Fed naik, apakah kami harus naik juga? Itu belum pasti. Tapi ruang penurunan nyaris tidak ada," pungkasnya.
Pada penutupan perdagangan sore kemarin, kurs rupiah sebesar Rp13.748 per dolar AS atau menguat sekitar 0,02 persen dari pembukaan perdagangan kemarin di angka Rp13.762 per dolar AS. Namun, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, kurs rupiah kemarin sebesar Rp13.793 per dolar AS. (lav)