Menko Darmin: Depresiasi Rupiah Tak Perlu Dikhawatirkan

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Minggu, 04/03/2018 15:08 WIB
Menko Darmin: Depresiasi Rupiah Tak Perlu Dikhawatirkan Menko Darmin menyebut, gejolak rupiah selalu muncul setiap bank sentral AS menaikkan suku bunga acuannya, namun rupiah tak terjerembab terlalu parah. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut, depresiasi rupiah terhadap dolar AS tidak perlu dikhawatirkan. Walaupun, pelemahan rupiah memengaruhi sikap investor asing yang memarkir duitnya di Indonesia.

Gejolak rupiah, sambung dia, selalu muncul acap kali bank sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya. Namun, saat pengumuman kenaikan suku bunga AS pun, ia menilai, rupiah tak terjerembab terlalu parah.

Sekadar informasi, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali tahun lalu. Tahun ini, The Fed juga akan menaikkan suku bunganya. Hanya saja, berdasarkan pidato Gubernur The Fed Jerome Powell, dunia masih menanti jumlah pasti kenaikan Fed Rate di tahun ini.



"Powell ngomong begini ngomong begitu, tapi kan apa yang ia bilang belum tentu sebenarnya. Sayangnya, investor asing sudah mulai pasang kuda-kuda. Memang, ada pengaruh terhadap ekspektasi orang yang punya duit, tapi tidak akan melahirkan gejolak," ujarnya ditemui di kantornya, Jumat (2/3).

Hal itu, Darmin melanjutkan, turut disokong oleh fundamental ekonomi Indonesia yang masih mumpuni. Mengutip data tahun 2017 di mana pertumbuhan ekonomi mencapai 5,07 persen, inflasi di angka 3,61 persen, dan neraca perdagangan surplus US$11,84 miliar.

"Jadi, situasinya normal-normal saja, kurs harusnya juga tidak bermasalah. Kalau suku bunga acuan AS dinaikkan, ya nanti ada riak-riak sedikit, tapi bukan gejolak lah," imbuh mantan Gubernur Bank Indonesia ini.

Selain itu, ia juga menyoroti nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat yang ditutup 8,83 poin ke level 6.606 kemarin di tengah depresiasi rupiah yang terjadi sejak awal tahun.

Menurut Darmin, hal ini menunjukkan bahwa investor asing mungkin sudah menarik dana dari pasar modal, tetapi investor dalam negeri masih optimistis dengan kondisi ekonomi Indonesia.

Darmin berujar, Indonesia baru boleh panik kala IHSG dan rupiah sama-sama terjungkal dalam. Sehingga, satu-satunya harapan untuk meningkatkan kembali nilai tukar rupiah adalah dengan intervensi dari BI.


Adapun, salah satu intervensi yang bisa digunakan BI kala rupiah dan indeks bursa terjun bebas adalah dengan intervensi dari sisi valuta asing dan Surat Berharga Negara (SBN) atau yang disebut dual intervention. Melalui intervensi ini, BI tidak hanya mengguyur pasokan valas di pasar valas, namun juga membeli SBN.

"Saat ini, penjualan asing terhadap surat berharga dalam negeri belum banyak. Buktinya, IHSG-nya masih bagus. Kecuali kalau IHSG mulai turun terus, nah BI harus mulai mengambil langkah kencang," papar dia.

Menurut data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat di angka Rp13.746 per dolar per 2 Maret 2018. Artinya, rupiah telah terdepresiasi sebesar 1,5 persen sejak awal tahun. (bir)