Modal Mini, Bank Muamalat Anteng Garap Bisnis Umrah dan Haji

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Selasa, 13/03/2018 13:17 WIB
Bank Muamalat mengisyaratkan akan melakukan ekspansi secara konvensional. Artinya, tidak ada produk baru, melainkan pengembangan layanan yang telah ada. Bank Muamalat mengisyaratkan akan melakukan ekspansi secara konvensional. Artinya, tidak ada produk baru, melainkan pengembangan layanan yang telah ada. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mengisyaratkan akan fokus pada pengembangan bisnis simpanan umrah dan haji. Lini usaha ini diklaim menjadi spesialisasi yang rutin digeluti perusahaan.

"Itu akan jadi fokus kami ke depan. Sekarang saja, bisa dapat 100 ribu jemaah umrah dan haji. Artinya, ada sekitar Rp2,5 triliun dana yang masuk ke kami," ujar Direktur Utama Bank Muamalat Achmad K Permana, Senin (12/3) malam.

Bank murni syariah pertama di Indonesia itu agaknya belum akan melakukan pengembangan bisnis lain karena masih terbebani dengan persoalan yang tengah membelit, seperti rasio pembiayaan bermasalah yang bengkak dan modal cekak.



"Untuk capital (modal) sedang kami bereskan. Lalu, kami optimalkan apa yang kami punya dari infrastruktur, produk, sumber daya manusia, dan lain sebagainya. Temanya, mengoptimalkan yang sudah dimiliki," terang dia.

Artinya, perusahaan akan menambah layanan dan produk baru untuk nasabahnya dalam waktu dekat ini. Namun demikian, ia tak menampik keinginan merilis produk baru apabila suntikan modal telah dikantongi.

Adapun, dari sisi pembiayaan, perusahaan fokus pada restrukturisasi. Pasalnya, Permana bilang rasio pembiayaan bermasalah (Nonperforming Financing/NPF) pada kuartal IV 2017 masih tak jauh berbeda dengan posisi akhir kuartal III 2017, yaitu di kisaran 4,57 persen.


Diakuinya bahwa perusahaan masih memerlukan modal tambahan untuk menurunkan rasio pembiayaan macet. "Kalau pembiayaan membesar, otomatis NPL akan turun, karena penyebutnya (bilangan pembagi) besar. Tapi, sekarang penyebutnya tidak bisa diperbesar, karena tidak punya capital (modal)," jelasnya.

Sebagai upaya restrukturisasi, perusahaan terus menjalin komunikasi dengan nasabah ritel dan korporat untuk melakukan penagihan.

Pun demikian, Permana belum ingin menyebut secara rinci mengenai sektor mana saja yang memberi kontribusi besar ke NPF. "Mulai dari trading, mining, alat berat, semuanya ada dari dulu. Ini kan sisa pembiayaan yang lama, jadi kami harus hadapi, kami bereskan," tutur dia.


Sementara, terkait perkembangan pencarian modal dari investor baru, Permana masih enggan menjelaskan. Yang pasti, perusahaan telah menawarkan pola pengembangan bisnis di semua segmen untuk profil investor yang berbeda-beda.

Misalnya, investor lebih tertarik untuk memberikan modal demi pengembangan lini bisnis ritel atau korporasi saja. Maka, keduanya disiapkan oleh perusahaan.

"Kalau yang lirik banyak, yang kedip bahkan juga banyak, tapi kan kami belum 'nikah', belum akad terima nikahnya Bank Muamalat dengan siapa seperti itu," pungkasnya. (bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK