Pangkas Defisit Neraca Dagang, Indonesia 'Jualan' di CIIE

SAH, CNN Indonesia | Rabu, 14/03/2018 01:11 WIB
Pangkas Defisit Neraca Dagang, Indonesia 'Jualan' di CIIE Ilustrasi (Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Indonesia berencana menghadiri China International Import Expo (CIIE) yang digelar di Shanghai China pada 5-10 November 2018.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Arlinda mengatakan partisipasi Indonesia dalam kegiatan tersebut bertujuan untuk mengurangi defisit neraca perdagangan Indonesia dengan China.

Arlinda menyebutkan total transaksi perdagangan antara kedua negara mencapai US$85 miliar. Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan dengan China sebesar US$12 miliar, sedangkan defisit perdagangan nonmigas mencapai US$14 miliar. Dengan demikian, pihaknya mendorong pengusaha Indonesia untuk mengikuti gelaran CIIE.



"Ini peluang yang bagus untuk mengurangi defisit tersebut," kata Arlinda di Gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta (13/3).

Pada gelaran CIIE ini, Indonesia akan berfokus pada tiga sektor barang yakni pertanian (agrikultur), barang konsumsi (consumer goods), serta pariwisata dan jasa. Ia pun meminta kepada pihak dari China agar Indonesia mendapatkan posisi yang strategis dalam gelaran tersebut.

"Ada beberapa zona yang mereka provide (sediakan) sekitar tujuh zona, tapi kami fokus pada tiga zona saja yang memang produk-produk potensial," terang dia.

Kendati demikian, Arlinda menyebut pihaknya akan menyeleksi produk yang akan dibawa dan dipromosikan pada pameran tersebut. Pasalnya Indonesia akan berkompetisi dengan 200 negara lain yang turut berpartisipasi.

Pihaknya berharap bisa meraup target nilai transaksi dari target sebanyak 150 ribu pembeli yang akan membanjiri gelaran CIIE tersebut.

Ia berujar pemerintah mendorong pengusaha termasuk Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk mengisi area seluas lebih dari 1000 meter persegi yang dipersiapkan oleh pemerintah.

"Pokoknya sebanyak mungkin (transaksinya), karena dia itu bentuknya bisnis dengan bisnis (Business to Business/B2B) dan bisnis dengan konsumen (Business to Consumer/B2C)," katanya.

Dilansir dari situs Kementerian Perdagangan China, China memiliki potensi perdagangan yang sangat besar dengan jumlah populasinya yang sebesar 1,3 miliar jiwa. Dalam kurun lima tahun ke depan pemerintah China memproyeksi impor baramg dan jasa akan mencapai nilai US$ 10 triliun. (lav/bir)