BI: Rupiah Tak Berisiko Melemah Hingga Rp15.000 per Dolar AS

SAH, CNN Indonesia | Rabu, 14/03/2018 17:22 WIB
BI: Rupiah Tak Berisiko Melemah Hingga Rp15.000 per Dolar AS Bank Indonesia (BI) menilai nilai tukar rupiah berpotensi menguat dan tak ada risiko melemah hingga ke level Rp15.000 per dolar Amerika Serikat (AS). (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menyebut tak melihat rupiah berisiko melemah hingga Rp15.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Nilai tukar rupiah bahkan diperkirakan BI bakal menguat seiring membaiknya kondisi global.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) menjelaskan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi sejak awal februari merupakan implikasi dari koreksi pasar keuangan global. Ia pun mengaku tak melihat adanya risiko pelemahan rupiah hingga ke level Rp15.000 per dolar AS.

Lembaga pemeringkat internasioal Standard and Poor's (S&P) sebelumnya mengingatkan perlu diwaspadainya pelemahan nilai tukar rupiah hingga ke level 15 ribu per dolar Amerika Serikat (AS) karena dapat berdampak pada kegiatan bisnis.


"Level itu (Rp 15 ribu per dolar AS) itu semacam psikologis, seperti stress test, itu bisa dilakukan siapapun saja. Jadi Itu bukan proyeksi," ujar Doddy di Jakarta, Rabu (14/3).

Doddy menekankan kondisi fundamental Inodnesia bukan biang keladi pelemahan rupiah. Ia pun memperkirakan nilai tukar rupiah akan kembali menguat.

Menurut Doddy, sejak pekan lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung stabil dan konsisten meskipun sempat mendekati level Rp13.800 per dolar AS.

"Sejak awal pekan nilai tukar sudah menguat dan pada hari ini menguat ke level Rp13.730 per dolar AS kami berupaya supaya tren positif ini bertahan dan bisa kembali ke level yang lebih aman," terangnya.



Doddy menyebutkan penguatan rupiah terhadap dolar AS saat ini juga didorong oleh beberapa faktor global. Pertama, investor di pasar global dan pasar keuangan terutama di AS merevisi kembali ekspektasi mereka terhadap kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed).

"Kami lihat penguatan rupiah dan mata uang lain terhadap dolar AS, salah satunya karena muncul beberapa data dari Amerika yang membuat investor atau pasar keuangan merevisi kembali perkiraan kenaikan suku bunga the Fed," terang dia.

Data yang dimaksud, antara lain, mencakup data rata-rata pendapatan kerja di AS cenderung lebih rendah daripada yang diprediksi oleh pasar. Doddy menyebutkan pasar memprediksi data rata-rata pertumbuhan pendapatan tahunan per jam sebesar 2,8 persen, tetapi realisasinya adalah 2,6 persen.

Kedua adalah data yang terkait dengan inflasi di AS yang sesuai dengan ekspektasi pasar yakni sebesar 2,2 persen. Angka tersebut, kata Doddy, lebih rendah dibandingkan dengan bulan lalu yang sebesar 2,6 persen.

"Dari data tersebut pasar keuangan AS melihat bahwa kenaikan suku bunga acuan The Fed tidak akan sampai lebih dari tiga kali dalam tahun ini," terang dia.


Selain itu, faktor pendukung pengutan rupiah dan mata uang lain terhadap dolar adalah isu-isu politik seperti rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Korea Utara Kim Jong Un.

"Faktor lain juga adalah terkait dengan perkembangan positif negosiasi British Exit (Brexit) ada indikasi negosiasi ini positif sehingga mengurangi tekanan dolar AS terhadap euro," katanya.

Kemudian kondisi politik AS berkaitan dengan perubahan salah satu anggota kabinet Presiden Donald Trump pun membuat dolar AS mengalami tekanan terhadap mata uang lain

Doddy berujar meskipun saat ini tren rupiah tengah naik hingga di Rp13.790 pada hari ini, angka tersebut masih belum sesuai fundamental yang diharapkan BI. Adapun pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup menguat 18 poin ke level Rp13.734 per dolar AS. (agi/agi)