JEDA

Menteri Jonan Pernah Berhasrat Ingin Kerja di BPS

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Sabtu, 17/03/2018 16:06 WIB
Menteri Jonan Pernah Berhasrat Ingin Kerja di BPS Menteri ESDM Ignasius Jonan ternyata pernah berhasrat untuk bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS) demi penyediaan data dan informasi yang tidak bias. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menduduki kursi menteri tak pernah jadi mimpi Ignasius Jonan. Nyatanya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu dua kali menduduki kursi menteri di bidang yang berbeda, sebelumnya Menteri Perhubungan.

Cerita punya cerita, Jonan ternyata memiliki hasrat terpendam untuk bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS). Ketika itu, ia masih berprofesi sebagai akuntan.

Pada 1980-an, ia sering kali melewati area kantor BPS di dekat pintu air Jakarta Pusat untuk mengirimkan surat ke mantan pacarnya melalui kantor pos.


"Setiap lewat kantor BPS, dalam hati saya, saya ingin bekerja di BPS," ujarnya, akhir pekan.

Hasrat itu tak lepas dari pentingnya keberadaan BPS untuk menyediakan data dan informasi yang tidak bias bagi masyarakat.

"Saya melihat, BPS itu badan penting, supaya informasi atau data yang disajikan untuk kepentingan usaha nasional tidak bias. Tidak dikendalikan unsur apapun, kecuali fakta," terang Jonan.

Puluhan tahun berlalu, Jonan menilai penyajian data BPS saat ini sudah lebih bersahabat bagi pengguna, termasuk bagi Kementerian ESDM.


Adapun, data-data yang dibutuhkan sektor ESDM dari BPS, antara lain data konsumsi energi rumah tangga, industri, dan transportasi per wilayah, yang dibutuhkan untuk perhitungan konservasi energi dan Rencana Umum Energi Daerah (RUED).

Namun, Jonan meminta BPS untuk menyesuaikan rumusan perhitungan rasio elektrifikasi. Soalnya, perhitungan rasio elektrifikasi yang dibuat BPS hanya memperhitungkan jaringan transmisi yang dibuat oleh PT PLN (Persero).

Padahal, penyediaan jaringan listrik ada yang dilakukan oleh swasta maupun swadaya dengan memanfaatkan sumber energi baru terbarukan. (bir)