Cerita punya cerita, Jonan ternyata memiliki hasrat terpendam untuk bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS). Ketika itu, ia masih berprofesi sebagai akuntan.
Pada 1980-an, ia sering kali melewati area kantor BPS di dekat pintu air Jakarta Pusat untuk mengirimkan surat ke mantan pacarnya melalui kantor pos.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setiap lewat kantor BPS, dalam hati saya, saya ingin bekerja di BPS," ujarnya, akhir pekan.
Hasrat itu tak lepas dari pentingnya keberadaan BPS untuk menyediakan data dan informasi yang tidak bias bagi masyarakat.
Puluhan tahun berlalu, Jonan menilai penyajian data BPS saat ini sudah lebih bersahabat bagi pengguna, termasuk bagi Kementerian ESDM.
Adapun, data-data yang dibutuhkan sektor ESDM dari BPS, antara lain data konsumsi energi rumah tangga, industri, dan transportasi per wilayah, yang dibutuhkan untuk perhitungan konservasi energi dan Rencana Umum Energi Daerah (RUED).
Namun, Jonan meminta BPS untuk menyesuaikan rumusan perhitungan rasio elektrifikasi. Soalnya, perhitungan rasio elektrifikasi yang dibuat BPS hanya memperhitungkan jaringan transmisi yang dibuat oleh PT PLN (Persero).
Padahal, penyediaan jaringan listrik ada yang dilakukan oleh swasta maupun swadaya dengan memanfaatkan sumber energi baru terbarukan. (bir)