Garam Impor 'Mendarat' Paling Lambat Mei 2018

SAH, CNN Indonesia | Selasa, 20/03/2018 19:23 WIB
Garam Impor 'Mendarat' Paling Lambat Mei 2018 Kementerian Perindustrian memprediksi garam impor untuk industri tiba paling lambat Mei 2018, atau sebelum musim panen garam pada Juni-Oktober nanti. (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perindustrian memprediksi garam impor untuk industri tiba di Indonesia paling lambat Mei 2018 nanti atau sebelum musim panen garam yang jatuh pada Juni-Oktober ini. Garam impor berasal dari China, Australia, dan beberapa negara lain.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono menyebut impor garam menindaklanjuti Surat Persetujuan Impor (SPI) garam untuk kebutuhan industri sebanyak 676 ribu ton kepada 27 industri. "Yang paling dekat Australia, China, India juga bisa," ujarnya, Selasa (20/3).

Namun demikian, Kemenperin tidak akan mengatur tahapan importasi dari garam industri. Rekomendasi impor diberikan untuk pemenuhan kebutuhan garam industri selama satu tahun penuh.



"Kami berikan satu tahun penuh untuk industri-industri yang meminta rekomendasi kepada kami, karena yang bisa atur tahapan importasinya kan industri masing-masing. Kami tidak tahu production cycle (siklus produksi) masing-masing," terang Sigit.

Garam impor akan diserap oleh industri pengolah garam industri. Setelah itu garam tersebut akan diberikan kepada industri-industri yang membutuhkan.

Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman, meski garam industri impor terlebih dahulu masuk melalui industri pengelola garam industri, namun harganya tidak akan terpengaruh.


Sebenarnya, industri makanan dan minuman boleh saja langsung mengimpor garam industri tanpa melalui industri pengelola garam industri. Namun, Adhi mengungkapkan pemerintah menyarankan untuk membeli garam industri impor melalui industri pengelola garam industri.

"Kalau untuk impor, kami harus akui lebih murah, seperti disampaikan Toni Tanduk (Ketua Asoasiasi Industri Pengguna Garam Indonesia/AIPGI). Impor itu harganya sekitar US$40 per ton sampai US$60 per ton. Berati sekitar Rp600 per kilogram untuk kemudian diolah," kata Adhi.

Lebih lanjut Sigit menjamin bahwa garam industri tidak akan merembes ke garam konsumsi. Toh, Kemenperin sudah menugaskan PT Sucofindo Surveyor Indonesia untuk melakukan verifikasi.


"Dan, material balance di industri sudah jelas. Kami beri rekomendasi pun atas dasar verifikasi dari Sucofindo. Kalau satu industri perlu 150 ribu ton tidak langsung kami penuhi, kami minta Sucofindo untuk verifikasi," pungkasnya. (bir)