Menteri Enggar Minta Bank Dukung Permodalan Ummart

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Senin, 09/04/2018 20:20 WIB
Menteri Enggar Minta Bank Dukung Permodalan Ummart Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meminta industri perbankan mendukung bisnis Ummart, toko ritel hasil kerja sama Aprindo, Hipmi, dan toko ritel di lingkungan pondok pesantren. Dukungan bisa ditunjukkan dengan menyalurkan pinjaman modal kerja kepada Ummart.

Diharapkan, toko ritel berlandaskan religi tersebut bisa mendapatkan pinjaman modal kerja berskema jangka pendek melalui pinjaman rekening koran (PRK). Dengan skema PRK, bank hanya memberikan margin kepada debitur sesuai dengan jumlah pinjaman yang diberikan, meski pinjaman tersebut tak mencapai jumlah plafon pinjaman yang diberikan.

Misalnya, bila bank memberikan plafon mencapai Rp100 juta kepada debitur, namun debitur hanya meminjam sebesar Rp50 juta, maka bunga yang dikenakan hanya sebesar pinjaman yang dicairkan kepada debitur.



"Saya sedang minta perbankan untuk menggunakan sistem bunga rekening koran. Jadi, mereka (dikenakan bunga) berdasarkan outstanding hariannya, baru mereka langsung lunasi," ujarnya di Kementerian Perdagangan (Kemendag), Senin (9/4).

Enggar melihat, skema pinjaman ini akan lebih efektif untuk menolong para debitur yang baru merintis Ummart, yang skala modalnya diperkirakan belum besar, namun tetap membutuhkan bantuan pinjaman dari perbankan.

Adapun pinjaman kredit tersebut nantinya akan digunakan Ummart untuk membeli pasokan barang yang akan dijual di toko ritel pondok pesantren tersebut, dimana pasokan barang didapat dari para perusahaan ritel modern berskala besar.

"Misalnya, Bank Mega Syariah memberikan pinjaman pembiayaan kepada gerai Ummart, ini mereka binaan dari Transmart (perusahaan yang terafiliasi dalam satu grup dengan bank tersebut). Nah, (Ummart) ke Transmart ini bayar tunai dari kredit (pembiayaan) ini. Tapi, kredit tidak bisa digunakan macam-macam, hanya untuk beli barang," jelasnya.


Dengan skema ini, Enggar melihat tujuan agar pembentukan Ummart dapat menggerakkan ekonomi masyarakat di lingkungan pondok pesantren bisa benar-benar tercapai. Pasalnya, langkah-langkah pengembangan Ummart terpetakan dengan rinci, mulai dari pasokan barang hingga pinjaman modal kerja.

Kendati begitu, Enggar mengaku belum memastikan bank-bank tertentu yang sudah menyatakan diri siap membantu permodalan Ummart. Hanya saja, dengan dorongan ini, ia berharap perbankan umum maupun syariah segera tergerak hatinya untuk memberikan aliran pinjaman modal kerja kepada Ummart.

"Kami tidak membatasi (bank tertentu untuk memberikan pinjaman), tapi kami mulai dulu saja. Banknya dengan umum dan syariah, itu boleh. Tapi prioritasnya syairah yang akan membantu, karena ini masuk ke pesantren," imbuh dia.

Ummart merupakan hasil kerja sama antara perusahaan ritel modern berskala besar, seperti Alfamart, Indomaret, Transmart, Hypermart, Superindo, Indogrosir, dan lainnya untuk menjadikan toko dagang di lingkungan pondok pesantren menjadi toko ritel.


Rencananya, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) akan membentuk 10 Ummart yang berlokasi di Jawa Timur pada Mei mendatang dan diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Tak Perlu KUR

Kendati membutuhkan permodalan, Enggar menyebut pinjaman modal kerja untuk Ummart tak perlu diberikan dengan skema program Kredit Usaha Rakyat (KUR), program milik pemerintah.


Sebab, meski KUR memiliki keunggulan bunga rendah, yaitu hanya sebesar tujuh persen, namun diharapkan pengusaha Ummart bisa lebih mandiri dalam mendapatkan pinjaman modal kerja.

Di sisi lain, Enggar khawatir pemberian pinjaman modal kerja dengan skema KUR membuat pengusaha Ummart mudah terlena karena bunga yang dikenakan sangat rendah.

"Lebih baik bunganya lebih tinggi dari KUR, tapi tidak tergoda menggunakannya untuk yang lain," pungkasnya. (bir)