Bankir Usul BI Naikkan Bunga Acuan Demi 'Gotong' Rupiah

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Rabu, 25/04/2018 12:55 WIB
Bankir Usul BI Naikkan Bunga Acuan Demi 'Gotong' Rupiah Industri bank umum mengusulkan agar BI segera menaikkan bunga acuan 7 DRRR demi menggotong rupiah yang terus melemah menyentuh Rp13.900 per dolar AS. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Industri bank umum mengusulkan Bank Indonesia (BI) untuk segera merespons kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve, dengan menaikkan bunga acuan. Tujuannya, demi menggotong rupiah yang terus melemah hingga menyentuh Rp13.900 per dolar AS.

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Kartika Wirjoatmodjo mengatakan respons kebijakan berupa mengerek BI 7 Days Reverse Repo Rate (7 DRRR) sejalan dengan kenaikan The Fed Fund Rate (FFR) pada Maret lalu dan diperkirakan merangkak naik lagi pada Juni mendatang.

Urgensi menaikkan suku bunga acuan dinilai demi menjaga jarak atau perbedaan antar suku bunga (interest rate differential). Pasalnya, jarak yang kelewat lebar berpotensi mendorong dana asing mengalir keluar (capital outflow) yang selanjutnya berdampak pada pelemahan rupiah.


"Bukan harus. Tetapi, ini pendapat dari bank saja. Karena, masalah interest rate differential ini rasanya perlu direspons juga. Pasar kan sudah melihat juga rencana kenaikan FFR," tutur Tiko, Selasa (24/4).


Selain itu, ia menyarankan, BI perlu terus menerus melakukan intervensi lewat cadangan devisa agar rupiah lebih stabil. Intervensi BI akan lebih efektif lagi jika dilakukan pada Mei nanti, mengingat masa pembayaran dividen berakhir dan melihat lebih jauh potensi rupiah jelang pengumuman The Fed pada Juni 2018.

"Mungkin, BI jaga bukan ketika ada pembayaran dividen, karena percuma, ada outflow yang besar saat ini. Tapi ketika dividen sudah selesai," terang dia.

Menurut Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk atau BCA Jahja Setiaatmadja, BI harus segera mengambil sikap. Apalagi, pelemahan rupiah sudah tembus Rp13.900 per dolar AS. Apalagi, stabilisasi rupiah merupakan tugas utama BI.

"Pasti secara psikologis akan menyebabkan kurs rupiah tertantang (rencana kenaikan The Fed), tinggal nanti kemauan BI mau intervensi dengan kurangi cadangan devisa atau terpaksa memberikan tanda ke pasar bahwa BI ikuti kenaikan suku bunga global," ucapnya.


Di sisi lain, BI harus mempertimbangkan bahwa masih ada kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed hingga dua sampai tiga kali lagi pada tahun ini. Artinya, rupiah berpotensi tertekan lebih dalam sekitar dua sampai tiga kali lagi pada tahun ini. Dengan demikian, persiapan stabilisasi rupiah mutlak dilakukan.

Siap Tahan Bunga Kredit

Tiko menilai keraguan BI untuk mengerek suku bunga acuan seperti halnya yang dilakukan The Fed, mungkin sedikit banyak karena mempertimbangkan dampak kenaikan suku bunga acuan pada suku bunga deposito dan kredit.

Pasalnya, ketika suku bunga acuan naik, suku bunga deposito dan kredit akan secepat kilat mengikuti kenaikan tersebut. Namun, giliran suku bunga acuan turun, bank tak bisa cepat merelakan penurunan suku bunga deposito dan kreditnya.

Namun, menurut Tiko, kekhawatiran dari sisi ini tak perlu terlalu dipikirkan. Sebab, faktor pengerek suku bunga deposito dan kredit tidak hanya 7DRRR. Namun, pengaruh dari permintaan kredit masyarakat.


"Intinya, kalau pun (7DRRR) naik, rasanya dari sisi suku bunga kredit dan deposito tidak akan cepat naiknya. Jadi, tidak perlu khawatir begitu suku bunga acuan naik, maka suku bunga kredit dan deposito itu otomatis baik," tutur dia.

Justru, menurut Tiko, dengan kondisi permintaan kredit masyarakat saat ini, rasanya masih ada ruang bagi bank untuk menurunkan suku bunga kreditnya, meski BI akhirnya merespons The Fed dengan mengerek 7DRRR.

"Bahkan, kami yakin bahwa tren suku bunga kredit (yang rendah) tetap bisa berlanjut sampai kuartal II dan III 2018 karena cost of fund (biaya dana) juga sudah turun duluan," pungkasnya. (bir)