Kalla Group: Tidak Ada Bagi-bagi Fee di Rekaman Rini-Sofyan

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Kamis, 03/05/2018 07:18 WIB
Kalla Group: Tidak Ada Bagi-bagi Fee di Rekaman Rini-Sofyan Rekaman suara antara Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno dan Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN Sofyan Basir beredar ke publik dalam beberapa hari terakhir. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bumi Sarana Migas (BSM), anak usaha Kalla Group, menegaskan tidak ada pembicaraan 'bagi-bagi fee' dalam rekaman suara antara Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno dan Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN Sofyan Basir yang beredar ke publik belakangan ini.

CEO Kalla Group Solihin Kalla mengatakan pembicaraan terkait porsi 15 persen dalam percakapan Rini-Sofyan merujuk pada penawaran porsi saham dari BSM kepada PT Pertamina (Persero) dan PLN.

Pertamina merupakan mitra kerja perusahaan dalam proyek Terminal Regasifikasi Gas Alam Cair (Liquefied Natural Gas/LNG) berkapasitas 500 mmscfd di Bojonegoro, Banten.

Namun, dalam perjalanan, Solihin menyebutkan, PLN kemudian dilibatkan dalam proyek tersebut.


Proyek itu digarap dengan model bisnis Private Public Partnership (PPP) sejak 2013 bersama dua rekan dari Jepang, Tokyo Gas dan Mitsui.

Dari kerja sama itu, BSM memegang porsi saham sebesar 50 persen, Tokyo Gas dan Mitsui 35 persen, dan sisanya 15 persen ditawarkan ke Pertamina dan PLN.

"Bahkan kami membuka kesempatan peningkatan kepemilikan saham BUMN hingga 25 persen. Jadi ini bukan soal 'bagi-bagi fee' seperti yang diberitakan di banyak media," ujar Solihin dalam keterangan tertulis, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, menurut Solihin, penawaran porsi saham 15 persen kepada Pertamina dan PLN, keduanya tidak memiliki porsi kontrol di proyek kerja sama tersebut.

Hanya saja, mengingat pasar gas, baik dari sisi distribusi dan konsumsi didominasi oleh dua perusahaan pelat merah itu, maka praktis BUMN sebagai offtaker dari proyek Terminal Bojonegoro telah mempunyai kontrol atas keberadaan proyek.

Di sisi lain, dengan porsi saham yang ditawarkan hanya 15 persen, sebenarnya kedua BUMN tak perlu mengeluarkan dana sangat besar, tetapi dapat tetap memiliki sebagian aset infrastruktur gas tersebut.

Pasalnya, proyek bernilai Rp10 triliun ini akan dibiayai oleh pemenuhan modal pemegang saham serta pinjaman dari lembaga keuangan pemerintah Jepang dan perbankan Negeri Sakura itu.

"Untuk kajian awal proyek LNG di Bojonegara ini saja konsorsium BSM, Tokyo Gas, dan Mitsui sudah mengeluarkan biaya sebesar US$20 juta," katanya.

Kendati begitu, hingga Elia Massa Manik dilepas dari jabatannya sebagai Direktur Utama Pertamina beberapa waktu lalu, belum ada perkembangan apapun dari penawaran saham BSM ke Pertamina dan PLN.

Sementara itu, terkait keterlibatan Ari Soemarno dalam proyek LNG Bojonegoro, dijelaskan Solihin lantaran BSM memang menunjuk Ari sebagai Koordinator Senior Proyek LNG.

"Penunjukan Ari sebagai Kalla Group Senior LNG Project Coordinator didasarkan pada profesionalitas dan keahlian beliau yang sudah puluhan tahun menggeluti sektor LNG," ujarnya.
(vws)