Setoran Pertamina ke 'Kantong' Sri Mulyani Anjlok Rp3,5 T

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Rabu, 02/05/2018 18:30 WIB
Setoran Pertamina ke 'Kantong' Sri Mulyani Anjlok Rp3,5 T Pertamina bakal menyetorkan dividen ke kas negara sebesar Rp8,57 triliun pada tahun ini, turun dari tahun lalu sebesar Rp12,1 triliun. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --
PT Pertamina (Persero) bakal menyetorkan dividen sebesar Rp8,57 triliun ke kas negara tahun ini dari perolehan laba di tahun lalu. Setoran dividen tersebut turun dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp12,1 triliun.

Kendati tak menyebut laba yang dikantonginya, Pertamina mengklaim pendapatannya tumbuh 18 persen di tahun lalu. Pertamina mencatatkan pendapatan mencapai US$42,96 miliar atau sekitar Rp582 triliun (kurs JISDOR akhir 2017 Rp13.548 per dolar AS), naik dari tahun 2016 US$36,49 miliar atau sekitar Rp490 triliun (kurs JISDOR akhir 2016 Rp13.436 per dolar AS).

Plt Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyebut bahwa profil keuangan perseroan di tahun lalu dipengaruhi oleh tren kenaikan harga minyak mentah dan pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Sepanjang 2017, realisasi rata-rata harga minyak Indonesia (ICP) mencapai US$51,17 per barel. Padahal, asumsi ICP berdasarkan Rencana Kerja Perseroan 2017 adalah US$48 per barel.


"Sepanjang 2017, perusahaan tetap berupaya menjaga kinerja keuangan yang positif meskipun terdampak oleh dinamika harga minyak dunia. Kami fokus menjalankan komitmen proyek strategis dan meningkatkan efisiensi di segala lini, sehingga Pertamina tetap dapat mencatatkan kenaikan pendapatan perseroan," jelas Nicke dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (2/5).

Menurut Nicke, secara umum kinerja operasional perusahaan juga membukukan pertumbuhan. Produksi migas naik sekitar 7 persen, dari 650 ribu barel minyak ekuivalen per hari (MBOEPD) tahun 2016 menjadi 693 MBOEPD pada tahun 2017. Pertumbuhan hulu migas ini dipengaruhi oleh produksi dari Banyu Urip dan naiknya produksi ladang luar negeri Pertamina.


Pertamina pun mampu meningkatkan produksi panas bumi (geothermal) menjadi 3.900 GigaWatthour (GWh), atau naik 27 persen dibanding tahun 2016 sebesar 3.043 GWh. Hal ini disebabkan beroperasinya PLTP Ulubelu Unit 3 dan Unit 4, serta Kamojang.

Pada pengolahan minyak, produk bernilai tinggi (yield valuable product) meningkat 1 persen menjadi 78,1 persen pada 2017, sementara pada 2016 sebesar 77,7 persen. Volume produk bernilai tinggi (volume valuable product) menjadi 253,4 juta barel (MMBbl) pada 2017.

Sedangkan pada sektor pemasaran, volume penjualan konsolidasi tercermin penurunan tipis sebesar sati persen, dari 86,84 juta kiloliter (kl) pada 2016 menjadi 85,88 juta kl pada 2017. Dari total volume tersebut, volume Premium Penugasan dan Jawa Madura Bali (Jamali) pada 2017 mengambil porsi 12,31 juta kl, naik 12 persen dari periode sebelumnya. Sedangkan, penjualan LPG PSO naik 2 persen menjadi 11,21 juta kl.


Lebih lanjut, tingkat Kesehatan Perusahaan mencapai skor total 88,52, dengan rincian aspek keuangan skor 65,00, operasional 12,52, dan administrasi 11,00 sehingga perusahaan termasuk dalam kategori sehat (AA). Kinerja HSSE dan GCG telah terealisasi dengan baik, dimana Pertamina meraih 11 proper emas dan proper hijau sebanyak 71. Score assessment GCG 2017 mencapai 91,97.

Sementara itu, pada 2017 Pertamina telah menjalankan Program BBM 1 Harga di 54 titik sesuai yang ditargetkan oleh Pemerintah. Untuk tahun 2018, perseroan menargetkan untuk menjalankan BBM 1 Harga di 67 wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur darat dan laut. Hingga April 2018, sudah terdapat 4 titik yang melaksanakan program BBM 1 Harga.

"Tahun ini akan menjadi tahun yang penuh tantangan bagi Pertamina. Sebagai BUMN migas, Pertamina akan menjalankan perannya dalam distribusi BBM, menjaga availability, affordability dan accessibility ke seluruh masyarakat Indonesia," jelasnya. (agi/agi)