ANALISIS

Seribu Cara Gugah Selera Investasi di Surat Utang Negara

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 16/05/2018 16:06 WIB
Seribu Cara Gugah Selera Investasi di Surat Utang Negara Lelang Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah tak selaris tahun sebelumnya. Salah satunya pada 8 Mei lalu, penawaran tiga seri SBN cuma 42 persen dari target. (CNNIndonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Peruntungan pemerintah dalam melelang Surat Berharga Negara (SBN) tak semujur awal tahun lalu. Memasuki lima bulan pertama di tahun ini, SBN nampaknya kurang menarik minat investor.

Kondisi ini memuncak pada 8 Mei lalu saat Kementerian Keuangan berniat melelang tiga seri SBN dan dua seri Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dengan harapan bisa menghimpun dana minimal Rp17 triliun. Sayangnya, dalam lelang itu, penawaran yang masuk hanya sebesar Rp7,18 triliun atau 42,24 persen dari targetnya.

Selain itu, Kemenkeu juga memutuskan untuk tidak mengambil penawaran calon investor lantaran imbal hasil yang ditawarkan dianggap tidak wajar. Calon investor meminta imbal hasil yang cenderung tinggi untuk tiga seri SUN, berkisar dari 6,8 persen hingga 7,95 persen.


Tanda-tanda melemahnya penawaran lelang SBN ini sudah terbaca di dua lelang sebelumnya. Pada 2 Mei lalu misalnya, pemerintah hanya berhasil menarik pendanaan Rp5,53 triliun dari penerbitan enam seri Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang awalnya memiliki target indikatif Rp8 triliun.


Sementara itu, penawaran yang masuk dari lelang SBN 24 April 2018 lalu terbilang Rp17,02 triliun atau lebih tinggi sedikit dari target indikatifnya, yakni Rp17 triliun.

Merosotnya jumlah penawaran SBN ini bisa dibilang cukup signifikan. Di dalam lelang SBN pada 3 Januari 2018, jumlah penawaran yang masuk mencapai Rp86,28 triliun dari target indikatif sebesar Rp17 triliun. Artinya, nilai penawarannya mencapai 407,5 persen lebih besar dibanding targetnya.

Kemenkeu mengakui bahwa kondisi pasar yang bergejolak membuat penawaran imbal hasil pelaku pasar terhadap SBN melambung tinggi. Salah satu faktornya adalah kebijakan suku bunga acuan bank sentral AS Fed Rate yang memberi sinyal kenaikan lebih banyak dari tiga kali di tahun ini.

Dalam setahun ini, Fed Rate sudah naik 75 basis poin yang bikin imbal hasil surat utang AS (dalam hal ini bertenor 10 tahun) melejit 51 basis poin sejak awal tahun. Ini tentu membuat pelaku pasar berspekulasi bahwa surat utang lain akan meningkatkan imbal hasilnya.


Hanya saja, Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Loto Srinaita Ginting mengungkapkan pemerintah sebetulnya tak ambil pusing dengan kenaikan permintaan imbal hasil. Toh, siapa tahu pasar obligasi kini sedang bergerak menuju ekulibrium baru, menyesuaikan dengan kondisi saat ini.

Menurutnya, Kemenkeu cuma khawatir jumlah penawaran SBN yang masuk tidak begitu banyak. Sebab, jika jumlah penawaran tidak banyak, maka rata-rata yield yang sebetulnya optimal bagi investor menjadi terdistorsi.

Misalnya, rata-rata yield yang ditawarkan sebesar 7,5 persen akan terasa rasional jika peserta lelangnya cukup banyak, karena hal itu menggambarkan selera investor secara umum. Namun, angka yield ini akan kurang akurat jika diwakilkan oleh segelintir investor saja.

"Kami sih tidak ada masalah (penawaran yield meningkat). Cuma, kalau bid-nya lemah, nah itu yang harus diperhatikan. Jangan sampai pemerintah sangat dipojokkan, sehingga penawaran yang lemah bisa memberikan acuan harga (obligasi negara)," jelas Loto.


Sebetulnya, jalan tengah yang aman adalah memperbolehkan investor mendapatkan imbal hasil yang lebih baik. Di sisi lain, pemerintah juga harus mendapatkan penawaran SBN yang banyak untuk menilai kewajaran imbal hasil yang diinginkan investor.

Kepala Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih mengatakan minat penawaran di lelang SBN bisa moncer kembali jika Bank Indonesia (BI) memastikan kenaikan suku bunga acuan 7 Days Repo Rate (7DRR) dari posisi saat ini 4,25 persen.

Sebab, suku bunga yang naik berimbas pada perbaikan imbal hasil instrumen investasi, termasuk SBN, sehingga investor kembali termotivasi.

Menurutnya, pada kondisi saat ini, yield yang rendah cenderung tidak menarik karena artinya harga obligasi cenderung mahal.


"Makanya, bisa dibilang investor ini menunggu BI untuk menaikkan suku bunga. Investor menunggu terus karena yield lebih tinggi artinya harga obligasi lebih murah," terang dia.

Meski demikian, ia enggan menyalahkan aksi BI yang menahan suku bunga acuan sepanjang tahun sebagai biang keladi lemahnya minat akan SBN. Menurut Lana, faktor utama yang mempengaruhi psikologis investor justru adalah depresiasi kurs rupiah terhadap dolar AS.

Sebab, melemahnya nilai tukar bikin nilai aset dalam denominasi rupiah turun jika disenilaikan dengan dolar AS. Apalagi, depresiasi rupiah terhadap dolar AS sudah mencapai 3,52 persen secara tahun kalender sejak awal tahun.

Sehingga, untuk memanjakan minat investor, sebetulnya pemerintah bisa mengubah strategi penerbitan utang dari SUN menjadi global bond karena punya banyak kelebihan.


Salah satunya, global bond yang terbit dalam denominasi dolar AS terbilang tahan dengan sentimen depresiasi rupiah ketimbang SUN. Di samping alasan, SUN juga bisa meningkatkan cadangan devisa. Sebab, dolar AS yang didapatkan kemudian akan ditukar BI menjadi rupiah. Otomatis, persediaan valuta asing BI semakin menumpuk.

Ini terasa dibutuhkan setelah melihat cadangan devisa BI akhir April sebesar US$124,86 miliar atau turun 5,38 persen dari rekor US$131,98 miliar Januari kemarin.

"Sehingga, kalau misalnya pemerintah menargetkan 20 persen penerbitan SBN valas, seharusnya angka itu fleksibel saja. Pemerintah tentu juga perlu mengubah strategi penerbitan SBN-nya," imbuh dia.

Senada, ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual mengatakan minimnya minat investor akan SBN bisa terobati jika ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga acuan bisa dikabulkan.


Menurut dia, pemerintah jangan terlalu ngoyo dalam menghimpun pembiayaan. Alasannya, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akhir tahun nanti diprediksi 2,14 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau lebih kecil dari target APBN, yaitu 2,19 persen dari PDB. Artinya, semakin kecil defisit, kebutuhan akan utang bisa ditekan.

"Kurangnya minat SBN sebetulnya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Sebetulnya, dengan APBN 2018, target defisit yang tidak tinggi ini sudah bagus jika sudah mempertimbangkan kemungkinan eksternal yang volatile," jelas dia.

Tetap saja, kepercayaan investor akan SBN tetap harus dijaga. Makanya, serupa dengan Lana, pemerintah diminta berani melakukan diversifikasi surat utang ke dalam obligasi valas.

"Indonesia sudah harus berani bervariasi dalam penerbitan surat utang valas, agar dari sisi mata uang tidak terlalu terekspos dengan depresiasi," pungkasnya. (bir)