ANALISIS

Buah Simalakama dari Kenaikan Suku Bunga

Agus Triyono, CNN Indonesia | Kamis, 31/05/2018 14:58 WIB
Buah Simalakama dari Kenaikan Suku Bunga Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --
Kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika mulai direspons cepat pemerintah dan otoritas moneter dalam negeri. Untuk moneter, Bank Indonesia (BI) mulai menyikapinya dengan menaikkan suku bunga acuan.

Tidak tanggung-tanggung, dalam satu bulan, BI bahkan menaikkan suku bunga acuan mereka sebanyak dua kali. Kenaikan suku bunga acuan 7Days Reverse Repo Rate (7 DRRR) sebesar 25 basis poin menjadi 4,5 persen dilakukan pada 17 Mei lalu.

Disusul kenaikan kedua, sebesar 25 basis poin menjadi 4,75 persen dilakukan Rabu (30/5) kemarin. Perry Warjiyo, Gubernur BI mengatakan bahwa kenaikan suku bunga tersebut dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.


Maklum, usai The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan mereka ke kisaran 1,5 persen dan 1,75 persen Maret lalu dan akan melanjutkan kebijakan tersebut sampai tiga kali pada tahun ini, rupiah bergerak limbung.


Pada 20 Maret atau dua hari sebelum Fed mengumumkan kebijakan kenaikan suku bunga mereka, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika masih bisa bertengger di kisaran Rp13.700-an.

Tapi, setelah itu nilai tukar rupiah terus melemah. Puncak pelemahan terjadi pada Mei ini. Rupiah sempet melemah mencapai ke kisaran 14.000 yang merupakan level terendah sejak Desember 2015 lalu.

Bukan hanya rupiah, pelemahan juga terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sempat menguat mendekati level 6.700-an yang merupakan level tertinggi sepanjang sejarah pada Februari 2018 lalu, kemudian IHSG terjun bebas. Bahkan, Mei ini IHSG terjun sampai ke level 5.700-an.


Perry mengatakan setelah menaikkan suku bunga acuan, ke depan BI akan memberlakukan kebijakan moneter ketat. "Sifatnya lebih ke bias ketat, tidak akomodatif lagi," katanya Rabu (30/5).

Bhima Yudhistira, Ekonom Indef mengatakan kenaikan suku bunga acuan tersebut memang urgen dilakukan. Saat ini, kondisi tekanan global terhadap ekonomi Indonesia masih cukup kuat.

Terlebih, pasar saat ini masih berekspektasi bahwa The Fed masih akan menaikkan suku bunga mereka sebesar 25 basis poin kembali.

Kalau ekspektasi tersebut menjadi kenyataan, yield spread antara Treasury Bond yang sekarang di kisaran 2,93 persen dengan Surat Berharga Negara (SBN) yang 7,75 persen dengan tenor yang sama akan semakin melebar.

Dan, kalau pelebaran yield spread tersebut benar terjadi, maka tekanan akan bertambah karena investor asing akan banyak melepas kepemilikan SBN mereka. Dampaknya bisa ditebak, stabilitas rupiah terancam.


Akhmad Akbar Susamto, Ekonom CORE mengatakan kenaikan suku bunga acuan BI memang bukan tanpa risiko. Kenaikan tersebut bisa memicu kenaikan bunga kredit, memperlambat investasi, dan melemahkan kemampuan dunia usaha.

Bukan hanya itu saja, kenaikan tersebut juga berpotensi menekan konsumsi dan ujung-ujungnya memperlambat pertumbuhan ekonomi. "Tapi ini memang pilihan, kalau BI ambil putusan seperti itu, berarti memang mereka sudah anggap serius," katanya.

Nah, agar dampak kenaikan suku bunga tersebut terhadap perlambatan ekonomi bisa diminimalisir, pemerintah harus mengeluarkan paket insentif. Khusus bagi bank, insentif perlu diberikan agar biaya operasional berkurang dan mereka bisa berkonsolidasi.

"Konsolidasi penting agar bank tidak saling saling berebut dana murah," katanya.
(agt/bir)