Apresiasi Rupiah Diramal Mampu Angkat IHSG

Lavinda, CNN Indonesia | Selasa, 05/06/2018 08:15 WIB
Apresiasi Rupiah Diramal Mampu Angkat IHSG Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini, Selasa (5/6) diperkirakan menguat seiring terapresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini, Selasa (5/6) diperkirakan menguat seiring terapresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Analis PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada memprediksi laju IHSG mampu berbalik menguat pascamelemah. Pelaku pasar memanfaatkan kenaikan sejumlah bursa saham global pada akhir pekan sebelumnya untuk kembali masuk.

"Adanya rilis kenaikan manufacturing PMI Indonesia yang dibarengi dengan kembali terapresiasinya rupiah memberikan sentimen positif pada pergerakan IHSG," ungkapnya dalam hasil riset, Selasa (5/6).



Penguatan saham-saham infrastruktur, aneka industri, dan sejumlah sahan lainnya mampu mendorong IHSG kembali ke zona hijau.

Hari ini, IHSG diperkirakan berada di kisaran support 5984-5996 dan resisten 6032-6055. Penguatan IHSG didukung oleh kembali meningkatnya volume beli, dan diharapkan dapat kembali bertahan. Namun, tetap dia mengingatkan pelaku pasar untuk tetap waspada terhadap sentimen-sentimen yang dapat membuat IHSG kembali melemah.

Sebelumnya, IHSG naik 31,23 poin atau 0,52 persen lebih tinggi dibandingkan pelemahan sebelumnya yang turun 27,47 poin atau 0,46 persen. Pergerakan IHSG kembali masuk berada di target resisten 6011-6029.


Laju Rupiah Jadi Sentimen Positif Obligasi

Di pasar surat utang, laju penguatan rupiah yang kembali terapresiasi seiring dengan meningkatnya indeks manufaktur PMI Indonesia memberikan sentimen positif pada pada pergerakan sejumlah seri obligasi.

Pelaku pasar memanfaatkan kondisi tersebut untuk kembali masuk dan selektif terhadap sejumlah seri obligasi. Terkait pergerakan masing-masing tenor, khusus tenor pendek (1-4 tahun) imbal hasilnya rata-rata menyusut 24,54 bps, tenor menengah (5-7 tahun) turun 10,60 bps, dan panjang (8-30 tahun) melemah 3,36 bps.

Laju pasar obligasi cenderung bergerak naik seiring masih bertahannya aksi beli dan imbas penguatan rupiah. Namun, sejumlah seri acuan mengalami ambil untung (profit taking) sehingga cenderung melemah.


Pada FR0063 yang memiliki waktu jatuh tempo ±5 tahun dengan harga 95,44 persen memiliki imbal hasil 6,72 persen atau naik 0,03 bps dari sebelumnya di harga 95,56 persen memiliki imbal hasil 6,69 persen.

Untuk FR0075 yang memiliki waktu jatuh tempo ±20 tahun dengan harga 99,85 persen memiliki imbal hasil 7,51 persen atau turun 0,15 bps dari sehari sebelumnya di harga 99,70 persen memiliki imbal hasil 7,53 persen. (lav/lav)