Meski demikian, ia mengakui rupiah sudah menguat cukup baik sejauh ini. Berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) 7 Juni 2018, saat ini nilai tukar mencapai Rp13.868 per dolar AS. Angka ini menguat 2,43 persen dibanding posisi 24 Mei lalu yang sempat menembus Rp14.205 per dolar AS.
"Namun, ini situasinya belum tenang betul. Jangan anggap ini sudah settle (pasti)," ujarnya di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Kamis (7/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia melanjutkan salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah aksi perang dagang yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Baru-baru ini AS memberlakukan kenaikan bea masuk bagi impor aluminium dari Kanada dan Uni Eropa yang bisa memberi sentimen penguatan dolar AS karena bisa mengurangi tekanan pada defisit transaksi berjalan.
"Kami pun tak mau situasi seperti ini, dimana masih ada ancaman di sana-sini. Ini masih bergerak kemana-mana, jadi rupiah pun sebetulnya belum stabil," terang dia.
Rupiah mengalami depresiasi sebesar 2,41 persen sejak awal tahun ini hingga 7 Juni 2018. Bahkan, depresiasi sempat menginjak 4,89 persen secara tahun kalender pada tanggal 24 Mei silam.
Bank Indonesia (BI) menyebut depresiasi nilai tukar ini disebabkan oleh pengumuman bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) yang telah meningkatkan 75 basis poin dalam setahun terakhir sebagai respons penguatan pertumbuhan ekonomi negara adidaya tersebut.
Untuk menghalau dampak lebih dalam, BI telah merespons dengan meingkatkan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 50 basis poin dalam sebulan. (bir)