Menko Darmin Sebut Penguatan Rupiah Belum 'Pasti'

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 07/06/2018 19:23 WIB
Menko Darmin Sebut Penguatan Rupiah Belum 'Pasti' Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut pemerintah belum puas atas penguatan rupiah terhadap dolar AS. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut pemerintah belum berpuas diri atas penguatan rupiah terhadap dolar AS yang terjadi belakangan. Soalnya, masih ada risiko eksternal yang perlu diwaspadai Indonesia, yang bisa menekan rupiah lebih dalam lagi.

Meski demikian, ia mengakui rupiah sudah menguat cukup baik sejauh ini. Berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) 7 Juni 2018, saat ini nilai tukar mencapai Rp13.868 per dolar AS. Angka ini menguat 2,43 persen dibanding posisi 24 Mei lalu yang sempat menembus Rp14.205 per dolar AS.

"Namun, ini situasinya belum tenang betul. Jangan anggap ini sudah settle (pasti)," ujarnya di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Kamis (7/6).


Ia melanjutkan salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah aksi perang dagang yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Baru-baru ini AS memberlakukan kenaikan bea masuk bagi impor aluminium dari Kanada dan Uni Eropa yang bisa memberi sentimen penguatan dolar AS karena bisa mengurangi tekanan pada defisit transaksi berjalan.

"Kami pun tak mau situasi seperti ini, dimana masih ada ancaman di sana-sini. Ini masih bergerak kemana-mana, jadi rupiah pun sebetulnya belum stabil," terang dia.

Meski begitu, ia menilai masih ada ruang penguatan lebih lanjut bagi rupiah jika tidak ada lagi kondisi eksternal secara mendadak." Kalau dari hitung-hitungan memang ada ruang penguatan, tapi itu dengan syarat ya tidak ada apa-apa. Bisa kok menguat lagi sedikit," imbuh dia.


Rupiah mengalami depresiasi sebesar 2,41 persen sejak awal tahun ini hingga 7 Juni 2018. Bahkan, depresiasi sempat menginjak 4,89 persen secara tahun kalender pada tanggal 24 Mei silam.

Bank Indonesia (BI) menyebut depresiasi nilai tukar ini disebabkan oleh pengumuman bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) yang telah meningkatkan 75 basis poin dalam setahun terakhir sebagai respons penguatan pertumbuhan ekonomi negara adidaya tersebut.

Untuk menghalau dampak lebih dalam, BI telah merespons dengan meingkatkan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 50 basis poin dalam sebulan.


(bir)