BI Proyeksi THR Bisa Pacu Pertumbuhan Ekonomi April-Juni 2018

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Sabtu, 09/06/2018 17:20 WIB
BI Proyeksi THR Bisa Pacu Pertumbuhan Ekonomi April-Juni 2018 Pemberian THR dan gaji ke-13 diproyeksi BI akan mendorong pertumbuhan ekonomi. (Ilustrasi/CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memperkirakan perekonomian tumbuh 5,2 persen pada periode April-Juni 2018 karena pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) jelang Lebaran serta gaji ke-13. Apalagi itu diberikan mendekati jadwal masuk anak sekolah.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pemberian THR dan gaji ke-13 dari pemerintah akan menjadi stimulus fiskal ke masyarakat. Itu akan membuat konsumsi rumah tangga terangkat dan memberi sumbangan yang lebih besar ke pertumbuhan ekonomi.

"Kebijakan fiskal bisa mendorong konsumsi. Ini membuat geliat ekonomi terus meningkat dari kuartal I 2018 (Januari-Maret)," ujar Perry di kantornya, Jumat (8/6).



Ia memperkirakan konsumsi rumah tangga meningkat lebih tinggi dari realisasi pertumbuhan konsumsi periode Januari-Maret 2018 sebesar 4,95 persen.

Hal ini, sambung Perry, ditunjukkan dengan survei penjualan eceran atas pembelian masyarakat yang tumbuh 4,1 persen secara tahunan pada April 2018 dari sebelumnya hanya 2,5 persen pada Maret 2018.

"Sejumlah barang mencatat penjualan yang cukup tinggi, misalnya makanan, minuman, tembakau, dan Bahan Bakar Minyak (BBM)," katanya.


Survei konsumen BI juga menyebut kepercayaan masyarakat untuk membelanjakan uangnya meningkat 2,9 poin menjadi ke level 125,1 pada Mei 2018. Perry menjelaskan, itu karena pengaruh sentimen pemberian THR dari pemerintah dan perusahaan swasta.

Pemberian THR membuat indeks penghasilan dan pembelian barang tahan lama naik.

Lagipula, harga sejumlah kebutuhan masyarakat juga tidak naik signifikan meski di bulan Ramadan dan menjelang Lebaran. Itu terlihat dari inflasi yang rendah. Tercatat, inflasi Mei 2018 sebesar 0,21 persen secara bulanan. Hasil survei BI hingga pekan pertama bulan ini mengindikasikan inflasi Juni hanya sekitar 0,22 persen.


"Ini juga karena ekspektasi inflasi masyarakat terjaga," imbuh Perry.

Kendati begitu, Perry memperkirakan sejumlah sentimen positif terhadap indikator konsumsi rumah tangga belum bisa meroketkan pertumbuhan konsumsi hingga lima persen.

"Memang kalau menembus lima persen itu belum [dari sebelumnya 4,95 persen], tapi kecenderungannya membaik dari kuartal ke kuartal," jelasnya.

Sementara sumbangan dari indikator investasi dan ekspor diperkirakan tetap baik. Bahkan, investasi bisa meningkat lebih tinggi dari Januari-Maret 2018 yang sudah tumbuh hingga 7,9 persen. "Kelanjutan pertumbuhan investasi swasta cukup baik," terang Perry lagi. (rsa)