Berharap Berkah Lebaran dari Gelaran Pekan Raya Jakarta

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 13/06/2018 07:52 WIB
Berharap Berkah Lebaran dari Gelaran Pekan Raya Jakarta Suasana Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran pada Minggu (10/6). (Foto: CNN Indonesia/Galih Gumelar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perhelatan Pekan Raya Jakarta (PRJ) diselenggarakan bertepatan dengan momentum Ramadan dan Lebaran. Hiruk pikuk pameran tahunan terbesar di megapolitan tersebut harus bersaing dengan khidmat bulan puasa dan perayaan kemenangan umat Islam.

Banyak yang khawatir, pesona PRJ akan semakin tenggelam. Apalagi, PRJ bakal ditinggal sebagian besar warga Jakarta yang akan mudik ke kampung halaman masing-masing.

Kenyataannya, ketika CNNIndonesia.com menyambangi PRJ pada Minggu (10/6) siang, tak kurang dari 1.000 orang memadati arena Gambir Expo. Bahkan, cuaca yang cukup terik dan panas menyengat kala itu tak menyurutkan langkah mereka untuk mengelilingi arena pameran seluas 44 hektare (ha) tersebut.


Tian, misalnya. Salah satu pengunjung yang berusia 54 tahun itu mengaku sudah 10 tahun setia bertandang ke PRJ. Ia bahkan, rela menempuh perjalanan dari Surabaya-Jakarta, khusus hanya untuk datang dan belanja ke PRJ.

PRJ Masih Berharap Berkah LebaranSuasana PRJ Kemayoran pada Minggu (10/6). (CNN Indonesia/Galih Gumelar).

Ia berkisah, ada banyak hal yang bikin ia rela menempuh jarak 700 kilometer (km) menuju Kemayoran. Pertama, tidak ada helatan sebesar PRJ  yang banyak menghadirkan penjual dan produk dengan dilengkapi penampilan artis di kota asalnya.

Kedua dan yang bikin ia jatuh hati dengan Jakarta Fair adalah variasi produk dan harga jualnya yang miring. "Bayangkan saja, mana ada sekarang orang berjualan baju tiga pasang seharga Rp100 ribu dengan kualitas yang bagus," katanya kepada CNNIndonesia pekan ini.

Saking senangnya berbelanja di Jakarta Fair, Tian bahkan rela bolak-balik Jakarta-Surabaya tiga kali dalam sepekan. Ini sudah ia lakukan sejak hari pertama Jakarta Fair diselenggarakan 23 Mei lalu.

Meski demikian, ia merasa ada yang berbeda dengan gelaran Jakarta Fair tahun ini. Ia semakin jarang menemukan barang yang dicari. Selain itu, ia merasa tahun ini jumlah pengunjungnya kian berkurang, tak seramai biasanya.


Ia menduga sepinya PRJ kemarin lantaran baru dibuka tiga pekan. Tetapi, menurutnya, kondisi tersebut akan berubah.

PRJ pasti akan ramai menjelang penutupan. Maklum saja, jelang penutupan gerai di PRJ pasti menawarkan diskon besar-besaran.

"Saya saja tahun lalu pernah beli kudapan yang harusnya Rp25 ribu, tapi saat penutupan harganya menjadi Rp10 ribu saja," katanya.

Senada dengan Tian, David juga merasa harga barang yang murah menjadi daya tarik PRJ setiap tahunnya. Meski bukan penggemar berat PRJ, pria berusia 23 tahun ini mengatakan harga yang murah dan bagus cukup memancing masyarakat.


"Motivasi belanja di PRJ ini ya harganya murah-murah, barang-barangnya bagus. Memang tak sering ke sini, tapi saya senang datang ke PRJ," ungkap dia.

Walaupun demikian, dia agak menyayangkan perhelatan PRJ tahun ini. Maklum saja, tahun ini penyelenggaraan PRJ memang bertepatan dengan Ramadhan dan Lebaran.

Titel surga belanja murah bisa redup karena sebagian besar masyarakat banyak yang lebih memilih menghabiskan uang di kampung halaman ketimbang di PRJ.

Untuk itu, David berharap PT Jakarta International Expo bisa lebih gencar mempromosikan Jakarta Fair kembali. "Promosinya mungkin yang saya lihat sampai saat ini masih kurang," katanya.


Tembus Rp7 Triliun

Walaupun bertepatan dengan Puasa dan Lebaran, toh Direktur Pemasaran PT JI Expo Ralph Scheunemann tetap optimis transaksi yang bisa dicapai pada perhelatan PRJ tahun ini bisa tembus Rp7 triliun atau naik 14,3 persen dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp6 triliun.

Ramadan dan Lebaran tak akan menjadi halangan untuk mencapai target tersebut. Berkaca dari penyelenggaraaan PRJ tahun lalu yang juga dilakukan saat Lebaran, pengunjung justru membludak pada H-2 hingga H+7 Lebaran.

"Tetap optimis jumlah pengunjung di tahun ini akan meningkat dari 5,7 juta orang di tahun lalu menjadi 6 juta orang di tahun ini," ujar Ralph.

Ia melanjutkan, target ini cukup realistis dengan angka pertumbuhan yang terbilang tidak ambisius. Dengan sokongan 2.700 perusahaan yang berpartisipasi, ia yakin target tersebut dapat dicapai. Meski memang, jumlah gerai tahun ini lebih sedikit 40 unit dibandingkan tahun kemarin.


"Apalagi, PRJ ini setiap tahun sangat berpengaruh terhadap roda perekonomian di Jakarta setiap tahunnya, semoga setiap target optimistis bisa dicapai. Penurunan 30 hingga 40 gerai ini sudah diantisipasi, tenant yang ada semakin memanfaatkan ruang kosong, sehingga space (ruang) mereka makin besar," ujar dia.

Derasnya pengunjung yang datang juga menjadi daya tarik tersendiri bagi Darma. Pria berusia 40 tahun asal Aceh ini tertarik membuka stand kopi Aceh di Jakarta Fair tahun ini.

Ia menganggap PRJ adalah lokasi yang pas untuk mempromosikan produk kopinya ke pelosok Indonesia. Sebab, pengunjung PRJ tak hanya dari Jakarta saja, melainkan berasal dari berbagai penjuru nusantara.

Makanya, ia tak mempermasalahkan nilai penjualan yang bisa diraup di dalam PRJ. Yang penting bagi dia, produknya bisa dikenal seantero Indonesia.


"Bagi kami, standar PRJ ini sangat bagus untuk promosi. Dengan masuk ke sini, artinya brand kami bisa dikenal dan diharapkan bisa mendongkrak penjualan di masa depan," ujar dia.

Ia juga menyatakan minat untuk ikut berpartisipasi di Jakarta Fair tahun depan. Hanya saja, ada uneg-uneg yang ingin ia sampaikan kepada pengelola PRJ, JI Expo. Ia berharap penataan stand di tahun depan bisa lebih terpadu dan jenis-jenis produknya tidak tercampur-campur seperti saat ini.

"Bagi saya yang penting PRJ ini adalah kenyamanan, dan stan di sini harus dikelompokkan, misalnya untuk penjualan kuliner harus satu tempat supaya masyarakat mudah cari kuliner, dan sebagainya," ujarnya.

Masukan serupa juga disampaikan Anita. Wanita berusia 43 tahun ini membuka butik mini. Ia merasa posisi stan yang ia dapatkan kurang menguntungkan.


Maklum saja, stan berdekatan dengan penjual makanan. Keadaan tersebut sering membuat stannya diabaikan pengunjung.

Namun ia tak sakit hati. Sebab, ia yakin cuan saat penutupan PRJ bisa lebih baik dibandingkan saat ia membuka kios di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Timur.

"Insyallah balik modal berkali-kali lipat. Saya tetap yakin membuka stan di PRJ ini masih yang terbaik," pungkasnya. (agt/agi)