Terimbas Perang Dagang, Dolar AS Lunglai ke level Rp14.375

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Jumat, 06/07/2018 17:24 WIB
Terimbas Perang Dagang, Dolar AS Lunglai ke level Rp14.375 Nilai tukar rupiah ditutup pada posisi Rp14.375 per dolar AS pada akhir perdagangan pasar spot hari ini,melemah 19 poin dibanding posisi kemarin. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah ditutup pada posisi Rp14.375 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan pasar spot hari ini, Jumat (6/7).

Posisi ini menguat 19 poin atau 0,13 persen dari penutupan kemarin, Kamis (5/7) di Rp14.394 per dolar AS. Adapun pergerakan rupiah hari ini berada di rentang Rp14.361-14.416 per dolar AS.

Berbeda dengan pasar spot, kurs referensi Bank Indonesia (BI) atau Jakarta Interbank Dollar Spot Rate (Jisdor) justru menempatkan rupiah melemah ke Rp14.409 per dolar AS. Padahal, posisi rupiah kemarin berdasarkan Jisdor BI, masih di Rp14.387 per dolar AS.


Sejalan dengan penguatan rupiah, sejumlah mata uang negara di kawasan Asia juga berhasil menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,01 persen, ringgit Malaysia 0,07 persen, baht Thailand 0,13 persen, peso Filipina 0,15 persen, won Korea Selatan 0,23 persen, dan dolar Singapura 0,29 persen.

Hal yang berbeda dialami renmimbi China yang melemah 0,1 persen, dolar Hong Kong minus 0,02 persen, dan rupee India minus 0,01 persen.

Sedangkan mata uang negara maju bervariasi. Rubel Rusia dan dolar Kanada melemah masing-masing 0,11 persen dan 0,03 persen. Sementara poundsterling Inggris menguat 0,09 persen, euro Eropa 0,14 persen, dan dolar Australia 0,35 persen.


Aristo Tjendra, Analis Monex Investindo menilai penguatan rupiah hari ini didorong oleh pelemahan dolar AS akibat sejumlah sentimen. Pertama, terbukanya peluang kenaikan bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve pada September mendatang.

"Tapi kenaikan itu memang sudah diekspektasi pasar, sehingga justru tidak mendapat respons yang menguatkan dolar AS," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Adapun peluang kenaikan bunga acuan The Fed hingga empat kali pada Desember mendatang justru masih terlihat kecil.

Selain itu, ada pula sentimen dari mulai diberlakukannya tarif bea masuk impor dari China terhadap sejumlah produk-produk AS pada hari ini. Kemudian, pasar juga masih menanti rilis data ketenagakerjaan Negeri Paman Sam yang akan diumumkan pada malam ini.

"Kalau datanya jelek, kemungkinan peluang rupiah menguat pada pekan depan terbuka. Meski mungkin penguatan itu hanya sementara," katanya.


Di sisi lain, rupiah sedikit mendapat sentimen dari penguatan euro Eropa dari dolar AS. Mata uang Benua Biru berhasil menguat karena ada perbaikan iklim politik di Jerman.

Faktor lain, katanya, bisa saja karena pasar melihat bahwa penguatan dolar AS selama ini sudah cukup lama, sehingga perlahan pasar yang kemarin banyak membeli dolar AS, kini justru menjualnya, sehingga pasokan bertambah dan memberi pelemahan.

Sementara, kekhawatiran akan peninjauan ulang terhadap fasilitas preferensi bea masuk (Generalized System of Preferences/GSP) oleh AS yang merupakan insentif tarif masuk untuk produk dari negara berkembang, termasuk Indonesia, belum menjadi sentimen.

Sebelumnya, bila AS benar akan mengubah kebijakan GSP, seharusnya justru melemahkan rupiah. Namun nyatanya, rupiah masih bisa menguat hari ini. "Mungkin ini belum jadi kekhawatiran karena masih bersifat wacana, belum ada kejelasan dari hal ini," pungkasnya. (agi/agt)