Isu Perang Dagang Masih Jadi Penghalang IHSG Hari Ini

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Senin, 09/07/2018 08:45 WIB
Isu Perang Dagang Masih Jadi Penghalang IHSG Hari Ini Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diramalkan masih dalam tren pelemahan pada hari ini, Senin (9/7), dipicu oleh isu perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan berbagai negara termasuk Indonesia.

Analis Trimegah Sekuritas Rovandi menjelaskan pelaku pasar asing dan domestik masih menjadikan isu tersebut sebagai pertimbangan utama dalam melakukan transaksi beli.

"Semua mata pelaku pasar melihat perkembangan dari perang dagang atau pernyataan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump," ungkap Rovandi kepada CNNIndonesia.com, Senin (9/7).



Pada pekan lalu, Trump menyinggung akan mengevaluasi sejumlah produk yang mendapatkan pembebasan tarif bea masuk ke AS, termasuk Indonesia. Khusus untuk Indonesia, pembebasan tarif bea masuk itu diberikan kepada produk tekstil.

Alhasil, sejumlah pelaku usaha pun khawatir bila Trump mencabut kebijakan pembebasan tarif bea masuk untuk tekstil karena akan menambah beban operasional.

Tak hanya soal perang dagang, pergerakan nilai tukar rupiah juga masih mewarnai IHSG hari ini. Maklum, nilai tukar rupiah belum juga bergerak di bawah Rp14 ribu per dolar AS setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan hingga 100 basis poin.

"Sentimen dari domestik masih tentang isu rupiah yang masih rendah," sambung Rovandi.


Dengan berbagai sentimen negatif tersebut, Rovandi masih pesimis IHSG bisa berbalik ke teritori positif pada pekan ini.

"Untuk satu pekan IHSG berada di support 5.500 dan resistance 5.820," ucap Rovandi.

Sementara itu, Analis Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya menilai ekonomi dalam negeri masih kuat secara fundamental. Sehingga, ia optimis IHSG bisa menguat pada awal pekan ini.

"Kuatnya fundamental perekonomian masih menjadi penopang pola pergerakan IHSG, tercermin dari data terlansir diantaranya cadangan devisa," papar William.


Namun, berdasarkan data BI jumlah cadangan devisa pada Juni 2018 sebenarnya tercatat turun menjadi US$119,8 miliar dari posisi Mei 2018 yang mencapai US$122,9 miliar. Hanya saja, jumlah itu dinilai masih cukup tinggi sebagai cadangan saat ini.

"Hari ini peluang naik masih terlihat dari pola pergerakan IHSG, rentang IHSG hari ini 5.527-5.888," pungkas William.

Dalam beberapa pekan terakhir, IHSG memang belum mampu bangkit (rebound). Pada pekan lalu saja, IHSG melanjutkan koreksinya sebesar 1,8 persen ke level 5.694 dari sebelumnya 5.799.

Kemudian, kondisi yang berbeda terlihat pada bursa saham Wall Street. Tiga saham utamanya menguat pada Jumat (6/7), di mana Dow Jones naik 0,41 persen, S&P500 naik 0,85 persen, dan Nasdaq Composite naik 1,34 persen.

(lav/lav)