Inflasi AS di Bawah Ekspektasi, Rupiah Menguat Jadi 14.356

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Jumat, 13/07/2018 09:20 WIB
Inflasi AS di Bawah Ekspektasi, Rupiah Menguat Jadi 14.356 Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada posisi Rp14.356 per dolar AS, terdongkrak realisasi inflasi AS yang di bawah ekspektasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah dibuka di posisi Rp14.356 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot hari ini, Jumat (13/7). Rupiah berhasil menguat sekitar 34 poin atau 0,23 persen dari penutupan perdagangan hari sebelumnya, yaitu Rp14.390 per dolar AS.

Bersama rupiah, sejumlah mata uang di negara Asia turut menguat. Mulai dari won Korea Selatan menguat 0,3 persen, peso Filipina 0,16 persen, baht Thailand 0,07 persen, dolar Singapura 0,06 persen, ringgit Malaysia 0,06 persen, dan dolar Hong Kong 0,01 persen. Hanya yen Jepang yang melesu 0,07 persen di hadapan dolar AS.

Sementara, mata uang negara maju bervariasi. Dolar Kanada melemah 0,01 persen, rubel Rusia minus 0,06 persen, dan poundsterling Inggris minus 0,15 persen. Dolar Australia berhasil menguat 0,16 persen, franc Swiss 0,05 persen, dan euro Eropa 0,02 persen.


Ibrahim, Analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka menyebut terapresiasinya rupiah memanfaatkan kondisi dolar AS yang melemah akibat pengaruh dari rilis data inflasi AS Juni 2018 yang cenderung di bawah ekspektasi pasar.

Inflasi AS per Juni 2018 naik 0,1 persen dari bulan sebelumnya, setelah pada Mei meningkat 0,2 persen. Padahal, pasar berekspektasi inflasi akan naik 0,2 persen setidaknya sama pada Mei lalu.

"Data inflasi yang tidak sesuai ekspektasi bisa melemahkan dolar AS," katanya kepada CNNIndonesia.com.


Dengan penguatan ini, ia memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang hari ini bisa tetap menguat. Bahkan, penguatan diperkirakan bisa berlanjut pada pekan depan, seiring dengan akan dirilisnya data neraca perdagangan Indonesia bulan Juli 2018 oleh Badan Pusat Statistik (BPS).


(bir)