Bersama rupiah, sejumlah mata uang di negara Asia turut menguat. Mulai dari won Korea Selatan menguat 0,3 persen, peso Filipina 0,16 persen, baht Thailand 0,07 persen, dolar Singapura 0,06 persen, ringgit Malaysia 0,06 persen, dan dolar Hong Kong 0,01 persen. Hanya yen Jepang yang melesu 0,07 persen di hadapan dolar AS.
Sementara, mata uang negara maju bervariasi. Dolar Kanada melemah 0,01 persen, rubel Rusia minus 0,06 persen, dan poundsterling Inggris minus 0,15 persen. Dolar Australia berhasil menguat 0,16 persen, franc Swiss 0,05 persen, dan euro Eropa 0,02 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibrahim, Analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka menyebut terapresiasinya rupiah memanfaatkan kondisi dolar AS yang melemah akibat pengaruh dari rilis data inflasi AS Juni 2018 yang cenderung di bawah ekspektasi pasar.
Inflasi AS per Juni 2018 naik 0,1 persen dari bulan sebelumnya, setelah pada Mei meningkat 0,2 persen. Padahal, pasar berekspektasi inflasi akan naik 0,2 persen setidaknya sama pada Mei lalu.
Dengan penguatan ini, ia memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang hari ini bisa tetap menguat. Bahkan, penguatan diperkirakan bisa berlanjut pada pekan depan, seiring dengan akan dirilisnya data neraca perdagangan Indonesia bulan Juli 2018 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). (bir)