Meski Upah Naik, Daya Beli Buruh Tani Masih Redup

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Senin, 16/07/2018 17:32 WIB
Meski Upah Naik, Daya Beli Buruh Tani Masih Redup Buruh tani merawat tanaman padi di area persawahan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tingkat daya beli pekerja buruh pertanian tercatat masih lemah karena tertekan kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari, meski tingkat upah cenderung meningkat. Hal ini tercermin dari upah riil buruh tani yang menurun 0,04 persen pada Juni 2018 dari bulan sebelumnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), upah riil buruh tani turun dari Rp37.847 per hari menjadi Rp38.830 per hari. Meski, secara nominal, upah meningkat 0,28 persen dari Rp50.052 per hari menjadi Rp52.200 per hari.

Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan penurunan upah riil buruh tani terjadi karena pengaruh inflasi bulanan yang meningkat jadi 0,59 persen pada Juni lalu, dari sebelumnya 0,21 persen pada Mei 2018.



"Karena inflasi bulanan masih fluktuasi, sehingga mempengaruhi upah riil. Makanya ke depan diperlukan pengendalian inflasi dan peningkatan pendapatan, serta kebijakan yang lebih berpihak kepada pekerja golongan ini," papar Ketjuk, sapaan akrabnya, di kantor BPS pada Senin (16/7).

Di sisi lain, upah buruh bangunan dan pembantu rumah tangga berhasil meningkat. Upah nominal buruh bangunan naik 0,12 persen menjadi Rp85.983 per hari dan upah riilnya tumbuh 0,02 persen menjadi Rp64.791 per hari.

Sementara itu, upah nominal pembantu rumah tangga naik 0,11 persen menjadi Rp392.535 per bulan, dengan upah riil meningkat 0,01 persen menjadi Rp295.784 per bulan.

Sedangkan buruh potong rambut wanita, meningkat upah nominalnya sekitar 0,1 persen menjadi Rp26.755 per kepala. Namun, secara upah riil stagnan di Rp20.161 per kepala.

"Kalau ini karena terpengaruh oleh permintaan pada jasa buruh tersebut, sehingga mereka bisa mengimbangi kenaikan inflasi," pungkasnya.

(lav/agt)