Tren pelonggaran ekonomi AS dimulai usai Negeri Paman Sam ini dilanda krisis pada medio 2007-2008. Kala itu, kata Darmin, AS melakukan pelonggaran kebijakan ekonomi sebagai langkah antisipasi krisis kredit perumahan kala itu.
Pemerintah AS, kata Darmin, membayar semua kredit perumahan yang macet dan menyalurkan dana secara besar-besaran dengan bunga yang rendah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seusai pelonggaran ekonomi tersebut, AS kemudian melakukan pengetatan. Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) pun mengerek suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) secara perlahan setelah itu.
Trump kemudian memperparahnya dengan langkah proteksionisme lain, yakni menaikan bea masuk produk baja dan alumunium asal China.
Langkah ini menjadi genderang perang dagang antar kedua negara yang memberikan dampak tidak langsung kepada negara-negara dunia lain, termasuk Indonesia.
Kombinasi kenaikan suku bunga dan penerapan bea masuk tersebut, kata Darmin, berdampak pada laju perekonomian global. Darmin menyebut kebijakan proteksionisme AS berkontribusi pada perlambatan pertumbuhan ekonomi negara-negara di dunia termasuk Indonesia.
"Dampak selanjutnya adalah jangka menengah, ekonomi dunia akan melembat termasuk kita. Cuma kalua anda tanya berapa persen, tidak ada yang tahu karena dunia belum pernah mengalami kejadian seperti ini," tutur Darmin. (agi)