Kemenperin Khawatir Pembatasan Impor Tahan Laju Industri

Agustiyanti & Setyo Aji, CNN Indonesia | Senin, 30/07/2018 08:09 WIB
Kemenperin Khawatir Pembatasan Impor Tahan Laju Industri Neraca perdagangan pada April 2018 tercatat mengalami defisit US$1,63 miliar didorong oleh kenaikan impor barang konsumsi dan migas. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perindustrian mengaku khawatir pembatasan impor bahan baku dan barang modal dapat menahan laju industri untuk memproduksi barang konsumsi.

"Impor bahan baku jangan ditahan. Nanti kita bisa apa kalau bahan baku ditahan?" terang Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah Kemenperin Gati Wibawaningsih di Seminyak, Bali, Sabtu (28/7).

Seperti diketahui, Indonesia hingga kini belum sepenuhnya mampu memproduksi bahan baku dan barang modal modal. Maka dari itu, impor bahan baku dan barang modal untuk industri masih diperlukan.


Kendati begitu, Presiden Joko Widodo berencana memperketat impor barang modal dan bahan baku guna memperbaiki performa neraca perdagangan Indonesia yang tengah mengalami defisit.


Sepanjang semester pertama tahun ini, neraca perdagangan tercatat defisit US$1,02 miliar. Defisit tersebut sebenarnya sudah lebih rendah dibandingkan posisi Januari hingga Mei 2018 yang mencapai US$2,83 miliar.

Data BPS menunjukkan impor bahan baku/penolong pada semester pertama tahun ini naik 21,54 persen dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi US$66,49 miliar. Sedangkan barang modal, naik 31,84 persen menjadi US$14,37 miliar.

Gati mengaku tetap mendukung kebijakan Presiden Joko Widodo tersebut. Namun, ia menekankan, seleksi bahan baku dan barang modal yang akan ditahan impornya harus dilakukan secara hati-hati.

"Bahan baku yang kita punya itu silakan ditahan, bahan baku yang kita tidak punya jangan ditahan, industrinya tidak maju nanti," ujar dia.


Sebelumnya, rencana pemerintah memperketat impor barang modal juga sempat diprotes oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengatakan rencana tersebut justru kontraproduktif dengan upaya menggenjot ekspor produk asal Indonesia.

"Karena kalau mau meningkatkan ekspor bagaimana mau mengurangi impor bahan baku, kan tidak mungkin dong," terang dia kepada CNNIndonesia.com, Kamis (26/7). (osc/osc)