Tarik Devisa Ekspor, BI Siapkan Tarif Swap Lebih Kompetitif

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 31/07/2018 22:08 WIB
Tarik Devisa Ekspor, BI Siapkan Tarif Swap Lebih Kompetitif Ilustrasi rupiah dan dolar Amerika Serikat. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia disebut-sebut sedang menyiapkan aturan agar tarif transaksi swap melalui BI bisa lebih kompetitif. Dengan langkah ini, BI diharapkan bisa mendapat pasokan dolar yang lebih banyak, dan lebih leluasa melakukan intervensi demi stabilisasi rupiah.

Transaksi swap merupakan transaksi pertukaran valuta asing terhadap rupiah melalui transaksi tunai (spot) dengan penjualan atau pembelian kembali secara berjangka.

Tarif transaksi swap yang dimaksud adalah tingkat bunga swap (swap rate) yang besarannya disesuaikan dengan tenor.



Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan tarif swap yang kompetitif dibutuhkan demi menarik Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang diparkir di luar negeri. Terlebih, ia mengklaim DHE yang masuk ke Indonesia baru 80 persen dari total DHE-nya, masih ada sekitar 20 persen devisa yang berada di luar negeri.

Dengan masuknya DHE, maka suplai dolar yang dimiliki BI bisa bertambah dan berimplikasi positif terhadap penguatan nilai tukar rupiah.

"Namun persoalannya, 80 persen hingga 81 persen DHE ini tidak segera ditukar rupiah oleh mereka. Makanya, BI kini sedang menyelesaikan aturan mengenai swap supaya (tarifnya) kompetitif," jelas Darmin di Istana Bogor, Selasa (31/7).

Ia melanjutkan, DHE yang masuk ke Indonesia sebagian besar disimpan oleh perusahaan di bank dalam bentuk tabungan valas.


Perusahaan tentu tidak mau gegabah menukarkan valasnya dalam bentuk rupiah karena ada faktor berjaga-jaga. Selama ini, tabungan valas bisa digunakan setiap saat jika terdapat hal yang mendesak.

Hanya saja, kewaspadaan pengusaha ini bisa menjadi masalah. Sebab, dana pihak ketiga dalam bentuk valas tidak bisa disalurkan perbankan untuk pembiayaan dalam bentuk rupiah. Makanya, korporasi harus diberikan pemantik agar mau menukarkan devisanya dalam bentuk rupiah.

"Salah satu jalan keluarnya adalah mekanisme swap yang cukup murah karena sekarang ini perusahaan masih tidak berani menukarkan dolar ke rupiah," ujarnya.

Ia mengakui bahwa tarif transaksi swap yang lebih murah ini merupakan insentif agar eksportir mau menukarkan devisanya ke rupiah. "Untuk (jenis insentif) yang lain ya nanti saja dulu," ujar Mantan Gubernur BI ini.


Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap eksportir bisa mengonversi sebagian DHE menjadi rupiah di dalam negeri. Kepulangan DHE ke Indonesia, lanjut dia, dapat menjadi obat untuk menguatkan rupiah kembali. Seperti diketahui, rupiah kini sedang terperosok dan sempat menyentuh level Rp14.500 per dolar AS.

"Sisanya bisa dibawa pulang ke Indonesia dan dikonversi ke rupiah tapi dengan catatan mereka juga membutuhkan," ungkap Sri Mulyani Jumat kemarin.

Sementara itu, BI sendiri pernah mengklaim bahwa tarif transaksi swap cukup rendah. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, tingkat bunga swap satu bulan tercatat 6,2 persen, sementara swap rate tiga bulan dipatok sekitar 7,3 persen.

"Kami pastikan kebutuhan dolar AS di spot dan swap itu terjaga," jelas Perry beberapa waktu lalu. (lav/lav)