Kinerja Industri Manufaktur pada kuartal II 2018 Melambat

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 01/08/2018 14:48 WIB
Kinerja Industri Manufaktur pada kuartal II 2018 Melambat Kepala BPS Suhariyanto menyatakan bahwa kinerja industri manufaktur kuartal II 2018 melambat. (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri manufaktur melambat di kuartal II 2018. Adapun perlambatan ini terjadi baik di industri besar dan sedang (IBS) serta industri mikro dan kecil (IMK).

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan IBS di kuartal II hanya tumbuh 4,36 persen secara tahunan (year-on-year) atau lebih rendah dibanding kuartal I yakni 5,36 persen.

Sementara itu, IMK hanya tumbuh 4,93 persen atau melambat dibanding kuartal I yakni 5,25 persen.


Untuk IBS, yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah sektor jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan yang turun 11,37 persen secara tahunan.

Penurunan pertumbuhan tersebut kata Suhariyanto disebabkan oleh cuti bersama selama Idul Fitri 2018 kemarin. Cuti telah membuat produksi berhenti sehingga membuat permintaan jasa perbaikan menurun.



Tak hanya itu, sektor industri bahan kimia juga turun 4,94 secara tahunan dibanding kuartal I kemarin. Pelemahan rupiah yang mendongkrak kenaikan harga bahan baku membuat industri kimia menahan produksinya sehingga membuat kinerja industri kimia menurun.

"Industri kimia ini mungkin agak berdampak signifikan ke kinerja IBS karena kontribusinya ke seluruh pertumbuhan IBS mencapai 14,77 persen," jelas Suhariyanto, Rabu (1/8).

Meski demikian, Suhariyanto mengatakan bahwa masih terdapat beberapa sektor di dalam IBS yang mengalami kenaikan pertumbuhan.

Industri kulit dan alas kaki misalnya, pada kuartal II kemarin masih tumbuh 27,73 persen secara tahunan.

Kenaikan ditopang oleh permintaan ekspor yang semakin tinggi dan permintaan domestik yang menguat seiring persiapan tahun ajaran baru sekolah.

Selain itu, pertumbuhan industri makanan dan minuman terbilang stabil tumbuh di angka 8,6 persen. Menurutnya, pertumbuhan ini masih terbilang menggembirakan karena industri makanan dan minuman berkontribusi 25,14 persen terhadap total pertumbuhan IBS.


"Kami melihat angka ini masih positif," terang dia.

Di sisi lain, IMK malah menunjukkan tren yang berbeda. Industri bahan kimia justru menunjukkan pertumbuhan 25,55 persen secara tahunan, di mana kondisi ini berbanding terbalik dengan IBS.

Catatan BPS menunjukkan bahwa pertumbuhan tersebut terjadi karena industri kimia skala mikro dan kecil tak membutuhkan konten impor layaknya industri besar.

Pertumbuhan juga terjadi pada industri makanan skala kecil dan menengah. Sektor tersebut masih tumbuh 5,47 persen.

Namun, industri pengolahan tembakau skala kecil dan menengah terpukul cukup parah. Pertumbuhannya justru melemah 57,28 persen.

Suhariyanto mengatakan perlambatan pertumbuhan terjadi akibat berkurangnya suplai tembakau. Perlambatan juga dipicu oleh melemahnya produksi tembakau daerah.

(agt/agt)