GAPKI Yakin Aturan Biodiesel Bikin Harga Sawit Naik US$50

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 09/08/2018 07:49 WIB
GAPKI Yakin Aturan Biodiesel Bikin Harga Sawit Naik US$50 Ilustrasi kelapa sawit. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) optimis kebijakan 20 persen biodiesel ke dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar (B-20) bagi kegiatan tanpa kewajiban pemerintah (non-PSO) bisa mendongkrak harga minyak kelapa sawit (CPO). Hitungan mereka, kebijakan tersebut minimal bisa mengerek harga CPO sampai US$50 per metrik ton.

Dengan demikian, ini diharapkan bisa mengangkat kembali harga CPO dari level saat ini di kisaran US$540 per metrik ton menjadi ke level US$600 per metrik ton.

Sekretaris Jenderal GAPKI Togar Sitanggang mengatakan implementasi B-20 bagi non-PSO diperkirakan bisa meningkatkan permintaan CPO hingga 1 juta ton tahun ini. Di atas kertas, ia yakin harga CPO bisa di angka US$50 per metrik ton. Namun setidaknya kenaikan harga minimum bisa diperoleh.



"Secara teknis sih harga sawit bisa naik mencapai US$100 per metrik ton. Tapi kalau ini berjalan, minimum kenaikan US$50 per metrik ton didapat. Di akhir tahun, devisa sawit bisa lebih tinggi dari beberapa bulan terakhir. Ini membantu defisit transaksi berjalan," ujar Tonggang, Rabu (8/8).

Ia melanjutkan, penggunaan biodiesel domestik sangat membantu permintaan CPO dalam negeri. Sebab, ia memproyeksi bahwa nilai dan volume ekspor CPO di tahun ini akan turun dibanding tahun kemarin.

Hingga akhir tahun, GAPKI memperkirakan penurunan volume ekspor CPO sebesar 5 persen dibanding tahun lalu, lantaran sentimen hambatan ekspor dari mulai India hingga Uni Eropa.


Bahkan, pengaruh ini sebenarnya sudah mulai terasa di semester I kemarin, di mana stok akhir CPO membengkak karena permintaan ekspornya mengecil. Data GAPKI pada Mei kemarin menunjukkan stok CPO ada di angka 4,75 juta ton atau melonjak dari bulan sebelumnya 3,97 juta ton.

Penurunan ini sangat disayangkan lantaran GAPKI sempat optimistis bahwa volume ekspor tahun ini bisa naik 10 persen. Sehingga, permintaan CPO sangat bergantung pada kebutuhan dalam negeri.

"Karena negara importir sawit ini berulah, maka tren penurunan ini masih akan sangat terasa. Jadi kami berharap banyak dari B-20 untuk semua sektor," jelas dia.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan implementasi B-20 diharapkan bisa mengerek harga CPO menjadi US$100 per ton. Sehingga, ini diharapkan bisa memutarbalikkan defisit neraca perdagangan yang masih defisit US$1,02 miliar dalam enam bulan pertama di tahun 2018.


Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan implementasi biodiesel bisa mengurangi impor BBM sebanyak 3,5 juta hingga 4,5 juta kiloliter (kl) per tahun. Di saat yang bersamaan, tentu ini bisa meningkatkan harga CPO karena peningkatan permintaan.

Pada akhir tahun, ia optimistis harga CPO bisa mendekati US$700 per metrik ton atau naik dari posisi saat ini US$532 per metrik ton. "Tentu ini diterapkan setelah B-20. Kalau tidak diterapkan, bagaimana demand-nya mau naik," jelas Darmin. (lav/lav)