RSPO Cabut Sementara Keanggotaan Nestle

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 29/06/2018 14:12 WIB
RSPO Cabut Sementara Keanggotaan Nestle Kebun inti kelapa sawit di Tungkal Ulu, Jambi. (CNN Indonesia/Mesha Mediani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keanggotaan Nestle dalam Perkumpulan Minyak Sawit Berkelanjutan (Roundtable on Sustainable Palm Oil/RSPO) dicabut sementara. Pasalnya, perusahaan makanan asal Swiss itu mangkir menyampaikan laporan tahunan terkait kemajuan aktivitas (The Annual Communications of Progress/ACOP) mengenai jaminan praktik minyak sawit berkelanjutan yang tersertifikasi.

Sebagai informasi, RSPO merupakan kelompok penyelenggara sertifikasi praktik minyak sawit berkelanjutan yang beranggotakan produsen minyak sawit, perusahaan barang konsumsi pengguna minyak sawit, dan kelompok aktivis.

Dalam pernyataan resmi di situs RSPO pada Rabu (27/6) lalu disebutkan, pencabutan sementara berlaku efektif sejak diumumkan dan menjangkau seluruh anak usaha Nestle.



Aturan Tata Tertib Keanggotaan RSPO 2017 mengharuskan anggota untuk melaporkan rincian kegiatan selama 12 bulan terakhir dan rencana kegiatan setahun ke depan hingga jangka panjang terkait cara mereka memproduksi atau membeli minyak sawit berkelanjutan yang tersertifikasi. Laporan tersebut harus diserahkan setiap tahun.

"Nestle belum menyerahkan laporan untuk 2016, dan untuk 2017, laporan yang diserahkan tanpa rencana yang terikat pada waktu tertentu," ujar RSPO dalam pengumuman resminya, dikutip Jumat (29/6).

Nestle telah diberikan kesempatan untuk menyempurnakan Laporan ACOP 2017 melalui pendekatan yang intensif. Namun, perusahaan menolak untuk memaparkan rencana yang terjadwal.


Tak hanya itu, Nestle juga belum membayar iuran keanggotaan sebesar 2.000 euro dan iuran non-keanggotaan.

Dengan dicabutnya keanggotaan RSPO, Nestle tidak bisa mengklaim telah menggunakan minyak sawit yang terjamin keberlanjutannya. Padahal, sertifikat mengenai implementasi minyak sawit berkelanjutan menjadi hal yang dipersyaratkan oleh pembeli minyak sawit, terutama di negara-negara Barat.

RSPO meminta Nestle untuk mematuhi persyaratan dan aturan Tata Tertib Keanggotaan 2017 paling lambat 20 Juli 2018. Keanggotaan Nesle bakal kembali dan sertifikat implementasi minyak sawit berkelanjutan bisa digunakan lagi apabila RSPO menilai Nestle telah memenuhi persyaratan.


"Kami memberikan waktu Nestle selama 30 hari (sejak tanggal terbitnya pengumuman) untuk mengkomunikasikan pencabutan keanggotaan sementara ini pada konsumennya, sehingga bisa memberikan waktu mereka (konsumen) untuk mencari alternatif. Setelah 30 hari, sertifikat Nestle tidak lagi valid secara otomatis," papar RSPO.

Dalam pernyataan resmi Nestle yang dikutip dari Reuters, Jumat (28/6), perusahaan selaku pembeli produk minyak kelapa sawit menyatakan akan terus berdialog dengan RSPO dan berharap bisa kembali menjadi anggota dalam waktu dekat.

"Kami memiliki ambisi yang sama dengan RSPO untuk memperbaiki kondisi lingkungan dan sosial dari sektor minyak sawit. Pendekatan kami terkait hal itu berbeda dan kami menghormati keputusan jajaran dewan RSPO terkait keanggotaan Nestle dan berharap bisa kembali memenuhi syarat dalam waktu dekat," ujar Nestle dalam pernyataannya, Kamis.


Sebagai informasi, minyak sawit merupakan minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, industri minyak sawit menjadi sorotan karena dituding menjadi biang kerok deforestasi dan pembakaran hutan yang menyebabkan kabut asap di sejumlah kawasan. (lav/asa)