Terbukti, pada Jumat (10/8) pagi atau sehari setelah calon presiden mengumumkan nama wakil presiden mereka, rupiah justru tersungkur ke level Rp14.435 per dolar Amerika Serikat (AS).
Posisi tersebut melemah jika dibandingkan sesi penutupan Kamis (9/8) yang berada di level Rp14.416 per dolar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara mata uang maju bergerak variasi. Dolar Kanada menguat 0,01 persen, euro Eropa 0,03 persen, poundsterling Inggris 0,03 persen, dan rubel Rusia 0,09 persen.
Namun, dolar Australia dan franc Swiss melemah, masing-masing 0,07 persen dan 0,02 persen.
Kendati melemah, Analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat di akhir pekan.
"Pergerakan rupiah memang kerap seperti ini, dibuka melemah, namun berhasil menguat di akhir perdagangan," katanya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (10/10).
(agt)
Namun, dolar Australia dan franc Swiss melemah, masing-masing 0,07 persen dan 0,02 persen.
Kendati melemah, Analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat di akhir pekan.
"Pergerakan rupiah memang kerap seperti ini, dibuka melemah, namun berhasil menguat di akhir perdagangan," katanya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (10/10).
Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan rupiah berpotensi menguat Jumat ini. Penguatan terdorong oleh ditandatanganinya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37 Tahun 2018 tentang Perlakuan Pajak dan Penerimaan Pajak Bukan Pajak (PNBP) di Bidang Pertambangan Mineral.
"Juga dipengaruhi perpanjangan perjanjian swaps antara Indonesia dan Australia untuk mengurangi ketergantungan dolar AS hingga harapan akan pasangan capres-cawapres yang akan diterima pelaku pasar," katanya.
Reza memperkirakan rupiah akan menguat ke kisaran Rp14.400-14.415 per dolar AS.
Reza memperkirakan rupiah akan menguat ke kisaran Rp14.400-14.415 per dolar AS.