REKOMENDASI SAHAM

Berkah Saham Batu Bara Saat Rupiah 'Kurang Darah'

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Senin, 03/09/2018 10:00 WIB
Berkah Saham Batu Bara Saat Rupiah 'Kurang Darah' Ilustrasi pergerakan saham. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Saham berbasis batu bara semakin di atas angin kala rupiah gonjang-ganjing terseret krisis ekonomi Turki dan Argentina seperti sekarang ini.

Pelemahan rupiah bisa dikatakan konsisten. Maklum, beberapa bulan ini rupiah terus melemah, bahkan sampai ke level Rp14.800 per dolar Amerika Serikat (AS).

Ketika rupiah terus terdepresiasi terhadap dolar AS, keuntungan emiten berbasis ekspor seperti batu bara bisa lebih tinggi. Pasalnya, mayoritas pendapatan emiten tersebut berbentuk dolar AS.


Analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra mengatakan emiten tambang batu bara yang memiliki prospek tersebut antara lain; PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Indika Energy Tbk (INDY).

Kebetulan, keempat emiten ini juga masuk dalam daftar lima besar emiten dengan nilai kapitalisasi tertinggi di sektor tambang batu bara.

"Momentum ini bagus untuk emiten tambang batu bara, emiten-emiten itu banyak ekspor dan penerimaannya juga dolar AS. Jadi tidak berdampak negatif," ungkap Aditya kepada CNNIndonesia.com, Senin (3/9).

Memang, tidak seluruh produksi batu bara emiten tersebut diekspor. Perusahaan tentu memiliki porsi batu bara untuk di dalam negeri.

"Kalau Indo Tambangraya Megah itu di atas 60 persen ekspor, tapi juga ada yang hanya 40 persen. Namun kan tertolong oleh pendapatan dolar nya jadi tetap untung," jelas Aditya.

Aditya mengatakan selain mendapatkan topangan dari pelemahan rupiah, emiten batu bara juga mendapatkan sentimen positif dari harga batu bara yang masih bertahan di atas level Rp100 per metrik ton.

"Kemudian emiten juga akan menaikkan volume produksi, jadi semakin bagus," tutur Aditya.

Mayoritas dari saham empat emiten yang direkomendasikan Aditya terpantau terkoreksi pada akhir pekan lalu.



Rinciannya, saham Adaro Energy turun 1,58 persen ke level Rp1.865 per saham dan Bukit Asam turun 2,64 persen ke level Rp4.050 per saham.

Kemudian, saham Indo Tambangraya Megah berakhir di level Rp28.300 per saham atau merosot 2,41 persen.

Beruntung, saham Indika Energy berhasil menanjak 2,83 persen ke level Rp3.270 per saham.

Di sisi lain, Analis Lotus Andalan Sekuritas Krishna Setiawan mengatakan rilis laporan keuangan masing-masing emiten juga masih direspons positif oleh pelaku pasar.

Meski memang tak semua laba bersih empat emiten ini tumbuh, tapi mereka kompak mencatatkan kenaikan penjualan pada semester I 2018.

Dalam hal ini, Indika Energy meraih kenaikan pendapatan tertinggi dibandingkan tiga emiten lainnya, yakni 219,44 persen menjadi US$1,44 miliar dari sebelumnya US$453,03 juta.

Hal itu membuat laba bersih perusahaan meningkat 48,98% dari US$51,22 juta menjadi US$76,31 juta.

Kenaikan kinerja diikuti oleh Bukit Asam dengan jumlah pendapatan yang tumbuh 17,41 persen dan laba bersih tumbuh 49,41 persen.

Selanjutnya, laba bersih Adaro Energy dan Indo Tambangraya Megah sama-sama menurun masing-masing sebesar 12,14 persen dan 2,22 persen.

Jumlah pendapatan kedua emiten ini memang hanya naik tipis dibandingkan dengan semester I 2017, di mana pendapatan Adaro Energy hanya naik 4,54 persen dan Indo Tambangraya Megah naik 8,02 persen.


"Adaro Energy memang tak terlalu bagus tapi masih yang tertinggi di sektornya," ujar Krishna.

Menurutnya, harga batu bara pada akhir pekan lalu masih bergerak di level US$117 per metrik ton. Angka itu dinilai masih cukup baik mengingat harga batu bara tertinggi berada di level US$119 per metrik ton sejak 2012 lalu.

CPO dan Tekstil

Selain emiten tambang batu bara, pelaku pasar juga memiliki opsi lain seperti saham berbasis minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan berbasis tekstil.

Seperti diketahui, emiten CPO memiliki porsi penjualan ke luar negeri selain menyiapkan pasokan untuk kebutuhan di Tanah Air.

Sementara, emiten tekstil juga seringkali mendapatkan pesanan dari luar negeri.

Aditya memaparkan dalam pekan ini pelaku pasar bisa membeli saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).

"Apalagi sekarang ditambah momentum B-20," ujar Aditya.

Kebijakan B-20 merupakan penerapan pencampuran biodiesel sebesar 20 persen ke dalam Solar untuk nonsubsidi. Hal tersebut mulai diimplementasikan pada September ini.

"Lalu untuk tekstil bisa PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL)," imbuh Aditya.

Terpantau, tiga emiten ini bergerak di zona hijau pada Jumat (31/8) kemarin.

Saham Astra Agro Lestari meningkat 2,08 persen ke level Rp13.500 per saham, PP London Sumatra bertahan di level Rp1.395 per saham, dan Sritex naik 1,18 persen ke level Rp344 per saham.


(agt)