Solar Tanpa Biodiesel Bisa Digantikan dengan Pertamina Dex

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Senin, 03/09/2018 13:39 WIB
Solar Tanpa Biodiesel Bisa Digantikan dengan Pertamina Dex Ilustrasi penggunaan solar. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan masyarakat yang membutuhkan minyak solar murni atau tanpa campuran biodiesel bisa membeli produk minyak solar dengan kandungan cetane di atas 51.

Salah satu produk minyak solar yang mengandung cetane di atas 51 adalah Pertamina Dex dengan kandungan cetane 53.

Per 1 September 2018, pemerintah mewajibkan perluasan penggunaan campuran biodiesel 20 persen (B20) ke minyak solar, baik untuk minyak solar yang merupakan Kewajban Pemenuhan Pasar Domestik (PSO) atau yang mendapatkan subsidi, sektor transportasi non PSO, industri, pertambangan, hingga ketenagalistrikan.


Apabila Badan Usaha Bahan Bakar Minyak (BU BBM) tidak melakukan pencampuran, dan Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN) tidak dapat memberikan suplai Fatty Acid Methyl Ester (FAME) atau BBN yang diperlukan ke BU BBM, maka akan didenda, yaitu Rp6.000 per liter.

Jika BUBBM atau BUBBN tidak membayarkan denda tersebut, maka pemerintah berhak mencabut izin usaha badan usaha terkait.

"(Konsumsi) Dex kan tidak banyak. Minyak B20 kan juga sudah bagus," ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana di kantor Kementerian ESDM, Senin (3/9).


Jika konsumen memilih menggunakan minyak diesel premium, konsekuensinya, harga beli konsumen menjadi lebih mahal. Sebagai pembanding, harga minyak solar bersubsidi Rp5.150 per liter. Sementara, produk Pertamina Dex dibanderol seharga Rp10.500 per liter.

Kendati lebih mahal, mengutip situs resmi Pertamina, Pertamina Dex memiliki kandungan sulfur yang rendah atau kurang dari 300 ppm dan telah memenuhi standar Euro 3, sehingga kinerja mesin lebih optimal dan bertenaga.

Pengecualian penggunaan B20 diberikan untuk Pembangkit Listrik yang menggunakan turbine aeroderivative, alat utama sistem senjata (alutsista), dan perusahaan tambang seperti PT Freeport Indonesia yang tambangnya berlokasi di ketinggian.


Atas pengecualian tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution meminta lembaga atau perusahaan terkait menyerahkan hasil audit yang menyatakan alat atau mesin diesel tidak bisa menggunakan B20.


(bir)