Conoco Phillips Kekeh Ingin Kelola Lagi Blok Corridor

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Senin, 03/09/2018 16:01 WIB
Kontraktor minyak dan gas asal AS ConocoPhillips berminat kembali mengelola blok migas Corridor di Sumatera Selatan setelah masa kontrak habis 19 Desember 2023. Kontraktor minyak dan gas asal Amerika Serikat ConocoPhillips berminat untuk kembali mengelola blok migas Corridor di Sumatera Selatan setelah masa kontrak habis pada 19 Desember 2023. (Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kontraktor minyak dan gas (migas) asal Amerika Serikat (AS) ConocoPhillips berminat untuk kembali mengelola blok migas Corridor di Sumatera Selatan setelah masa kontrak habis pada 19 Desember 2023.

Sebelumnya, ConocoPhillips telah menjadi operator Blok Corridor sejak 2002.

"ConocoPhillips sudah mengajukan minat (mengelola kembali Blok Corridor) dalam bentuk surat tetapi belum mengajukan proposal," ujar Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto, Senin (3/9).



Jika perusahaan asal Amerika Serikat (AS) itu ingin mengelola kembali Blok Corridor, perusahaan harus mengajukan proposal kontrak baru. Artinya, pemerintah tidak bisa serta merta memperpanjang kontrak pengelolaan yang saat ini berlaku yang masih menggunakan skema pengembalian biaya operasi (cost recovery) dalam kontraknya.

Pemerintah, lanjut Djoko, memberikan batas waktu selama bulan ini bagi ConocoPhillips untuk menyerahkan proposal kontrak baru. Jika perusahaan tidak memasukkan proposal ke pemerintah untuk mengelola Blok Corridor, maka pemerintah akan menyerahkah hak pengelolanya kepada PT Pertamina (Persero).

"Kalau tidak ada proposal, apa yang mau dibahas cuma surat-surat selembar," ujarnya.


Djoko mengungkapkan Blok Corridor merupakan salah satu blok penghasil gas bumi besar di Indonesia, sehingga layak untuk diambilalih oleh Pertamina sebagai operator.
Perusahaan pelat merah itu sebelumnya telah meminta izin untuk membuka data Blok Corridor kepada pemerintah beberapa waktu lalu.

Sebagai informasi, saat ini ConocoPhillips memiliki hak pengelolaan sebesar 54 persen di Blok Corridor dan bertindak sebagai operator. Sementara itu, Repsol Energy menguasai 36 persen dan 10 persen sisanya dimiliki oleh Pertamina.

Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), hingga akhir Juli 2018, rata-rata produksi siap jual (lifting) gas bumi ConocoPhilips di Blok Corridor mencapai 828,4 juta kaki kubik per hari (mmscfd) dari target 810 mmscfd.


Realisasi itu setara dengan 12,9 persen dari rata-rata total lifting gas bumi nasional pada periode yang sama, 6.418 mmscfd.

Hingga akhir tahun, SKK Migas memperkirakan rata-rata lifting gas bumi ConocoPhilips di Blok Corridor hanya akan sebesar 800 mmscfd atau 98,8 persen dari target dan mengambil porsi 12,8 persen dari proyeksi rata-rata lifting gas bumi nasional yang mencapai 6.245 mmscfd. (lav/bir)