Harga Minyak Terhadang Badai Gordon

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Rabu, 05/09/2018 06:50 WIB
Harga Minyak Terhadang Badai Gordon Ilustrasi. (REUTERS/Lucy Nicholson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia bergerak naik tipis pada perdagangan Selasa (4/9), waktu Amerika Serikat (AS). Pergerakan dibatasi oleh persiapan infrastruktur energi di Pantai Teluk AS dalam menghadapi Badai Gordon di Pantai Teluk AS.

Kenaikan harga juga dibatasi oleh penguatan dolar AS dan kenaikan stok di hub pengiriman minyak mentah Cushing, Oklahoma. Dilansir dari Reuters, Rabu (5/9), harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) naik tipis US$0,07 menjadi US$69,87 per barel.

Selama sesi perdagangan, WTI sempat menyentuh level US$71,4 per barel. Sementara, harga minyak mentah AS menguat US$0,02 menjadi US$78,17 per barel, setelah sempat menyentuh level US$79,72 per barel.


Kedua harga acuan sempat melonjak di awal sesi perdagangan seiring semakin banyaknya perusahaan minyak AS yang menarik pegawainya dari jalur Badai Tropis Gordon sehingga menghentikan beberapa produksi minyak dan gas (migas) dari Teluk Meksiko AS.



Namun, badai diperkirakan akan bergerak ke arah timur sehingga mengurangi ancaman terhadap area produksi utama dan mayoritas kilang di Pantai Teluk. Pengangkutan kapal di Pantai Teluk juga dibatasi sebelum diterpa Badai Gordon.

Berdasarkan data Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA), Teluk Meksiko merupakan penghasil 17 persen produksi minyak mentah AS dan lima persen gas alam secara harian. Sementara, di darat, Pantai Teluk merupakan hub pengilangan utama AS.

Kendati demikian, harga minyak melandai seiring pelaku pasar melihat pembelian berlebihan di pasar. "Reaksi awal pagi ini terlihat berlebihan mengingat gangguan di infrastruktur produksi di Teluk Meksiko kemungkinan tidak akan mengurangi minyak mentah secara besar-besaran dari pasar," ujar Presiden Rittersbusch and Associates Jim Ritterbusch dalam catatannya.

Menurut Ritterbusch, imbas badai Gordon yang akan mempengaruhi aktivitas kilang di Pantai Teluk AS terjadi melalui gangguan listrik.



Membebani harga minyak, pelaku pasar mengutip data Genscape menyatakan persediaan minyak mentah di hub pengiriman Cushing, Oklahoma menanjak hampir 754 ribu barel per hari (bph) selama periode 24-31 Agustus 2018.

Penguatan indeks dolar AS terhadap mata uang negara lain juga menekan harga minyak mentah berjangka. Sebagai catatan, semakin kuta dolar AS maka harga komoditas yang diperdagangkan dengan dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

asar minyak telah mengetat selama bulan lalu, mendorong harga Brent lebih dari 10 persen sejak pertengahan Agustus. Investor berekspektasi bahwa pasokan dari Iran bakal merosot seiring pemberlakuan sanksi AS pada November mendatang.

Ahli Strategi Perminyakan BNP Paribas Harry Tchilinguirian memperingatkan masalah pasokan akan berlangsung hingga 2019. "Berkurangnya ekspor minyak mentah dari Iran akibat sanksi AS, penurunan produksi di Venezuela, dan gangguan berkala di Libya kemungkinan tidak dapat sepenuhnya diimbangi oleh kenaikan produksi dari anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya," ujar Tchilinguirian.

BNP Paribas memperkirakan rata-rata harga Brent mencapai US$79 per barel pada 2019.


(agt/agt)