Krisis Turki dan Perang Dagang Tekan Harga Minyak

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 06/09/2018 07:35 WIB
Harga minyak dunia tertekan karena pasar khawatir krisis keuangan di Turki dan perang dagang antara Amerika Serikat dan China bakal menekan permintaan minyak. Ilustrasi. (REUTERS/Edgar Su)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia merosot lebih dari satu persen pada perdagangan Rabu (5/9), waktu Amerika Serikat (AS). Penurunan terjadi setelah badai di Pantai Teluk AS menjauh dari kawasan produksi minyak.

Selain itu, kekhawatiran terhadap sengketa dagang dan krisis keuangan di Turki yang berisiko menekan permintaan minyak juga turut menjadi faktor penekan harga. Dilansir dari Reuters, Kamis (6/9), harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) merosot US$1,15 atau merosot 1,65 persen menjadi US$68,72 per barel.

Penurunan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka Brent sebesar US$0,9 atau 1,15 persen menjadi US$77,27 perbarel. Pada sesi perdagangan sebelumnya, Brent sempat menyentuh level US$79,2 per barel, tertinggi sejak Mei 2018.


Pada perdagangan pasca penutupan (post-settlement), kedua harga acuan tertekan lebih dalam setelah Institut Perminyakan Amerika (API) merilis data penurunan stok minyak mentah AS yang sedikit lebih kecil dari perkiraan.



Selasa (4/9) lalu, harga minyak mentah melejit akibat sejumlah perusahaan minyak AS menutup fasilitas perminyakan di laut (offshore) guna mengantisipasi datangnya Badai Tropis Gordon di AS.

Namun demikian, badai tersebut tidak berkembang menjadi badai siklon tropis. Karenanya, perusahaan energi dan operator pelabuhan di Pantai Teluk AS kembali beroperasi kemarin.

"Harga minyak kemarin naik karena mengantisipasi datangnya badai yang dapat merusak fasilitas produksi dan kilang minyak. Namun, setelah apa yang dilakukan, pasar hanya kehilangan sedikit produksi dan kilang di Mississippi dan Lousiana terus beroperasi seiring tibanya Badai Gordon ke daratan," ujar Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow kepada Reuters.

Berdasarkan estimasi Biro Penegakan Keselamatan dan Lingkungan AS (BSSE), perusahaan memangkas produksi minyak sekitar 156.907 barel per hari (bph) karena mengantisipasi Badai Gordon pada Selasa lalu.

Harga minyak juga melemah akibat sengketa dagang antara AS-China yang menyebabkan kekhawatiran terhadap berkurangnya permintaan. Presiden AS Donald Trump dapat mengenakan tarif lagi terhadap US$200 miliar produk impor China setelah periode komentar publik terhadap pengenaan tarif baru berakhir Kamis ini.



Sekretaris Jenderal Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) Mohammad Barkindo menyatakan bahwa perang dagang global dapat menggangu permintaan energi di masa mendatang. Selanjutnya, krisis keuangan Turki juga membebani harga minyak mentah dunia. Kurs lira Turki telah merosot lebih dari 40 persen tahun ini.

"Ketakutan terhadap krisis keuangan Turki yang menyebar ke negara berkembang lain telah memicu kekhawatiran di sisi permintaan (minyak)," ujar Analis Energi Senior Interfax Energy Abhishek Kumar.

Sementara, sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran yang akan berlaku pada November mendatang telah mengurangi ekspor dari negara produsen minyak terbesar ketiga di OPEC itu. Hal itu menyebabkan OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, sepakat untuk mengerek produksinya.

"Dengan antisipasi sekitar 1,5 juta bph akan terkena imbas sanksi AS terhadap Iran, diperkirakan harga minyak bakal bergerak ke atas pada beberapa pekan ke depan," ujar broker OANDA Stephen Innes.

Rabu kemarin, Presiden AS Donald Trump menyatakan ia tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi di Iran. Trump juga tidak peduli pemimpin Iran ingin berbicara kepadanya atau tidak.

(agt/agt)